Serbuan Tanya

Ratna Hayati

MOMENTUM paling “menyeramkan” bagi pengantin baru yang belum dikaruniai keturunan adalah saat kumpul keluarga besar. Lalu, ada seorang tante usil yang bertanya sok perhatian: “Belum isi?” Dengan penekanan tertentu dalam kalimat tanya tersebut serasa membuat hati ingin meledak kesal. 

Itu adalah penanya ke sekian dengan pertanyaan sama yang menghampiri. Kenapa pertanyaan semacam itu seakan menjadi menu wajib dalam pertemuan, terutama pertemuan keluarga. Memangnya orang menikah hanya satu tujuannya untuk beranak? Memangnya salah kalau tak punya anak? Mungkin maksudnya perhatian tapi sadar tak sih kalau pertanyaan semacam itu sungguh menyebalkan!

Kata tanya tak berhenti saat sudah punya anak sekalipun. Nanti saat sudah punya satu anak dan beranjak besar dan belum ada anak, berikutnya pertanyaan: “Kok, belum dikasih adik?” Sang penanya seakan mau ikut mengasuh dan menanggung segala konsekuensi yang timbul dari punya anak lagi. Mereka hanya bertanya, risiko ditanggung masing-masing. Jadi bisa dikatakan pertanyaan-pertanyaan semacam itu sungguh tak berguna selain hanya mengganggu pikiran dan membuat kesal saja.

Entah, sejak kapan pertanyaan itu diciptakan? Kapan tanda tanya mulai tercipta dalam ragam tulisan? Kalimat tanya harus disertai dengan sebuah tanda tanya berbentuk seperti sabit. Sejak saat itu manusia seakan tak bisa lepas dari tanda baca dan yang paling menyebalkan adalah tanda tanya.

Dalam dongeng anak-anak “Putri Salju”, kita juga akan menjumpai pertanyaan dan tanda tanya: “Wahai cermin di dinding, siapakah wanita tercantik di dunia?” Jawaban yang tak memuaskan membuat seorang ratu jahat iri pada anak tirinya dan ingin memnyingkirkannya. Kalimat tanya dengan jawaban yang dianggap kurang tepat berujung rencana dan usaha pembunuhan.

Orang tua tampaknya juga tak suka dengan pertanyaan. Setiap anak-anak bertanya penuh rasa ingin tahu sontak segera dibungkam untuk diam diiringi tatapan ketus dan mulut mendesis tanda gusar. Anak diminta menurut saja tak usah banyak bertanya. Sebab, setiap pertanyaan akan dengan cepatnya melahirkan pertanyaan yang lain. Seakan tiada akhir! Itu melelahkan para orang tua yang sudah seharian dengan pekerjaan kantor atau pekerjaan rumah tangganya. Secuil pertanyaan mungkin akan mengusik kenyamanan saat beristirahat sambil menikmati berselancar di di dunia maya.

Lain lagi, kisahnya saat di sekolah. Sebagian guru mungkin juga tak suka dengan pertanyaan. Sebab, membuat jadwal mengajar menjadi panjang dan molor. Guru harus pandai menyiapkan jawaban agar pertanyaan tidak beranak menghasilkan pertanyaan yang lain.

Dalam dunia pendidikan yang mengagungkan hafalan, bukan argumentasi kritis, pertanyaan dari guru juga sering menjadi momok menakutkan. Kegagalan menjawab sesuai teks dan materi bisa berujung dipermalukan di muka kelas. Jadi,  kalau bisa saat tiba waktunya guru bertanya, kita mempunyai jubah Harry Putter yang bisa membuat tubuh kita menghilang.

Hidup memang tak lepas dari pertanyaan. Sejak bangun tidur pun kita sudah dihantui oleh banyak pertanyaan. Berbagai pertanyaan lain meronta ingin dijawab. Padahal, rasanya tak ingin menjawabnya, cukup menjalani saja hari yang mengalir seperti air. Sulit! Pertanyaan-pertanyaan itu menuntut dijawab. 

Era percetakan membuat tanda tanya menjadi salah satu hal yang lantas muncul dalam aneka prosa, puisi, dan esai. Kadang tanda tanya ini bukannya menghasilkan solusi tapi malah menimbulkan kegelisahan atau pertikaian. Tak semua pertanyaan murni ingin mengetahui sesuatu. Pertanyaan sering muncul untuk menguji sesuatu atau menguatkan asumsi yang sudah dibangun sendiri oleh si penanya. Sehingga, apapun jawabannya menjadi tak penting lagi. Pertanyaan kadang sekadar menjadi umpan untuk “perang” selanjutnya. 


Ratna Hayati, penulis tinggal di Jakarta

Pertanyaan: Awalnya dan Akhirnya

Joko Priyono

KEGIATAN bertanya itu bagian penting dalam kesejarahan umat manusia. Mereka tak mungkin dapat mengetahui dan memahami banyak hal tanpa dimulai dengan bertanya. Bertanya tak lain peristiwa mendasar bagi tiap orang akan rasa keingintahuan. 

Dahulu, di kegiatan-kegiatan bertajuk motivasi diri dalam seminar-seminar, pembicara sering mengetengahkan ungkapan-ungkapan untuk memancing peserta dalam memahami jati dirinya. Ungkapan itu biasanya berupa pertanyaan: “Siapakah saya?”

Pertanyaan mendasar dengan melahirkan kejutan demi kejutan untuk memahami seluk-beluk dalam diri. Orang-orang terbiasa melatih diri dengan bertanya tentu jauh lebih maju dan tertantang akan naluri pengetahuannya ketimbang tidak sama sekali. 

Anak-anak sedari masa asuhan orang tua, idealnya perlu dididik dengan berbagai pertanyaan dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya. Tanya demi tanya menjadi sublimasi banyak hal pada rasa keingintahuan.

Setidaknya, hal itu menjadi bahasan juga oleh Andi Hakim Nasoetion dalam buku berjudul Panduan Berpikir dan Meneliti Secara Ilmiah Bagi Remaja (1992). Penjelasan tersampaikan sampai implikasi muncul saat naluri ingin tahu seorang anak tak mendapatkan porsi kesempatan. Kita mendapatkan penjelasannya: “Di satu pihak kalau rasa ingin tahu anak tidak tersalurkan dengan baik, ia mungkin akhirnya menjadi orang dewasa yang selalu menyusahkan orang lain.”

Pertanyaan kemudian menjadi perhatian khusus dalam aturan bahasa Indonesia. Kita membuka buku dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang berjudul Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988). Kita mengerti ihwal pronomina penanya. Dijelaskan di halaman 184: “Dari segi maknanya, yang ditanyakan itu dapat mengenai (a) orang, (b) barang, atau (c) pilihan…. Di samping itu, ada kata penanya lain, yang, meskipun bukan pronomina, akan dibahas pada bagian ini juga. Kata-kata itu mempertanyakan (d) sebab, (e) waktu, (f) tempat, (g) cara, dan (h) jumlah, urutan.”

Dalam praktiknya, bahasa, interaksi, dan komunikasi di banyak ruang tak luput masalah. Di benak para penggenggam modernitas dengan kemajuan teknologi, masalah demi masalah kian rumit. Orang-orang memasuki gejala pada kemandekan dalam bertanya pada apa saja, sesuatu hal yang ada di lingkungannya. Situasi pelik tersebut kian waktu, kian menggeliat. Konon, banyak analisis menunjukkan bahwa kecenderungan saat ini adalah gandrung akan kediriannya, tanpa mempertimbangkan dengan sebuah pertanyaan dahulu.

Teknologi dalam arus dunia digital menjadi biang lahirnya ancaman kehidupan banyak orang. Pergaulan demi pergaulan orang dalam tiap komunitasnya terus memberikan dampak. F Budi Hardiman memberikan sebuah analogi dalam buku Aku Klik Maka Aku Ada: Manusia dalam Revolusi Digital (2021): “Telepon itu makin pintar, dan mungkin penggunanya makin enggan menggunakan pikirannya sendiri sampai menjadi pandir. Pulsa menjasi pulse, denyut, kehidupan seperti oksigen.” 

Ketimpangan itu muncul. Banyak orang mendapati sebuah hambatan di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Satu hal mendasar tentu saja adalah tradisi bernalar dalam menyikapi gejala demi gejala dalam hidup. Tak ketinggalan pula adalah bagaimana mereka juga berpotensi terhambatnya berpikir kreatif. Sejatinya banyak muatan pengetahuan bertebaran, tetapi dengan pola asuh, kebiasaan, dan habitus terjadi tak mendukung pada proses di sana. Kita tak bisa berharap banyak akan orang-orang gemar terus mencari dan mencari pada proses pergulatan berpengetahuan.

Di majalah Akutahu edisi November 1987, SC Utami Munandar menulis esai berjudul “Hambatan Berpikir Kreatif”. Ia menjelaskan pengertian berpikir kreatif sebagai suatu cara berpikir di mana seseorang mencoba menemukan hubungan-hubungan baru, untuk memperoleh jawaban-jawaban baru terhadap suatu masalah. Ia menekankan bahwa berpikir kreatif memberikan lebih dari satu jawaban terhadap suatu persoalan dan untuk itu diperlukan imajinasi.

Kita urungkan membahas lebih lanjut. Episode dalam wabah setidaknya menjadikan keterhambatan dalam ruang-ruang yang sejatinya untuk membangun tradisi bernalar, melatih imajinasi, dan sarana berpikir kreatif agaknya kelimpungan membendung pola besar yang berkembang. Pendidikan bermasalah mengibatkan lambatnya pada anak didik di tiap tingkatannya. Anak-anak sangat rentan. Orang tua telanjur frustrasi, membiarkan anak-anak berlama-lama dengan tiap gawai.

Kita belum tahu dan menemukan resep terbaik apa yang dapat digunakan. Situasi kompleksitas membayangi dalam tiap hari-hari. Ia bak hantu yang memberikan teror dan ketakutan bagi tiap orang, kendati tak sedikit dari mereka tidak merasa khawatir dan takut. Mungkin saja solusi terbaiknya adalah digalakkan kembali kegiatan demi kegiatan bertajuk motivasi bagi tiap orang supaya tergugah semangatnya dalam menjalankan hidupnya di hari-harinya dan mengembalikan laku akan hadirnya pertanyaan.

Toh, kenyataannya seperti itu, urusan pertanyaan demi pertanyaan lebih gandrung menjadi bahasan dalam acara seminar motivasi, bisnis, dan percintaaan. Ia justru jarang terjadi pada ruang kelas, kegiatan belajar, dan ruang pengetahuan lainnya. Andaikan terjadi keberadaan pertanyaan demi pertanyaan yang muncul dalam ruang pengetahuan bisa saja kalah bermutu ketimbang pertanyaan hadir dalam ruangan seminar motivasi, bisnis, dan percintaan yang biasanya perlu menggocek uang tak sedikit itu.


Joko Priyono, penulis tinggal Solo

Bersalaman Tanda Tanya

Marhamah

SEJAK dulu, kalimat berakhir tanda tanya punya masalah. Kalimat-kalimat dengan tanda tanya terdengar keras, lembut, datar, kasar, atau sopan meminta jawaban. Orang-orang pintar suka bertanya. Orang-orang bertanya itu cerdas dan membuka masalah. 

Murid-murid di sekolah menghindari jawaban. Ujian berlimpah kalimat tanya menguras daya dan tenaga murid berpikir merasa sengsara. Apalagi jika jawaban terduga salah. Apakah, kenapa, mengapa, dan bagaimana bergantian memodelkan kalimat-kalimat meminta, menuntut, menuduh, dan menduga. Kita menghadapi cobaan dalam permintaan, tuntutan, dan tuduhan berhadapan dengan kalimat.

Kalimat membikin dongkol jelas punya jawaban, tetap ditanyakan. Kadang kita menelisik kedalaman pertanyaan dimaksudkan meminta jawaban. Bisa saja kalimat  sebenarnya sedang menyangkut persetujuan. Kalimat-kalimat tanya sedang membangun ruang persidangannya sendiri. Kita terjebak dalam sangkaan dan sanggahan. Pelan-pelan hanyut dalam anggukan-anggukan. Martabat kalimat sedang dipertaruhkan di persidangan kalimat tanya. 

Begitu banyak kalimat tanya, begitu pula cara menanggapinya. Cara sangat menggelitik dengan membaca Pippi si Kaus Panjang. Anak yang hidup seorang diri teranggap jauh dari kewajaran bagi orang sekitar. Orang-orang berkehendak kuat agar Pippi tinggal di panti asuhan. Terjadi sidang tanya di Pondok Serbaneka tempat Pippi tinggal. Pertanyaan meluncur oleh dua orang polisi. 

“Apa katamu? Jadi soal itu sudah beres?” tanya salah seorang polisi. 

“Di mana letak panti asuhan anak-anak itu?”

“Di sini,” kata Pippi bangga. “Aku ini kan anak-anak. Dan aku mengurus diriku sendiri, lagi. Lagi pula, panti itu artinya rumah. Betul, kan? Jadi, rumahku ini bisa dibilang panti asuhan anak-anak, karena di sini aku mengurus diriku sendiri.” 

Nalar mengusulkan jawaban Pippi membikin jengkel para polisi. Pippi dikejar hingga ke atap dan pohon. Ternilai berlebihan sikapnya, dua polisi dilempar Pippi hingga keluar pagar. Duh! Akibat pertanyaan membikin sakit-sakit di badan polisi. 

Kita terpahamkan perubahan bermusabab pertanyaan-pertanyaan dari orang berpikir. Pikiran membuat orang merenung dan mempertanyakan. Pertanyaan-pertanyaan itu banyak muncul di novel berjudul Kooong gubahan Iwan Simatupang. Membaca pertanyaan ternyata harus pelan-pelan, tidak grusa-grusu dan ditimang-timang. Kalau tidak begitu, geger tanda tanya menghebohkan orang sedesa. 

Permenungan itu bertanya pada diri. Dalam kekacauan yang terjadi di desanya, Pak Sastro memutuskan pergi. Keputusan hasil permenungan agar beban sedihnya tak ikut ditanggung orang sekitar. Pak Sastro memutuskan untuk melakukan pencarian perkututnya dan keluar dari desa. Dalam perjalanan, orang-orang ditemui Pak Sastro ditanyai perkutut. Perkutut biasa yang selalu ditanyakan Pak Sastro membuat orang yang ditemuinya bertanya balik: “Tidak ada kooongnya? Kalau begitu perkutut bisu. Perkutut gule! Orang sinting! Ha! Ha! Ha!”

Pak Sastro sedih, termenung, dan bertanya: “Kenapa mereka anggap dia sinting? Karena dia telah memelihara perkutut yang biasa saja? Adakah milik kita di rumah istimewa semua? Takkah ada di antaranya kursi tua yang sudah reot, rotannya bolong di sana-sini? Takkah ada di antara anak-anak kita seorang dua anak yang biasa saja, tak punya keistimewaan apa-apa, di sekolah jadi murid biasa dengan angka rata-rata 5 atau 6? Apakah anak-anak seperti ini harus kita cekik lehernya, kita buang ke dalam WC?” 

Banjir pertanyaan Pak Sastro mengusik kita yang sedang membaca. Anggapan telanjur dipaku pada yang tidak biasa: cerdas, bagus, istimewa, bernilai, dan beralasan. Kita sejak lahir tak biasa menganggap biasa yang biasa. Orang terdorong biasa meremehkan yang biasa. Kita hilang rasa pada yang biasa. 

Kita biasa melihat matahari terbit di timur saat pagi hari. Bersamanya, Bumi menggeliat. Tanaman senam. Burung bercicit. Kupu-kupu terbang riang. Kita sibuk dengan diri: menyiapkan kebutuhan hari itu, mandi, berak, makan dan hanyut dengan hari. Matahari tak mengesankan kita terbiasa mengalami hari. Kita lupa bertegur sapa dengannya di awal tadi. Tiba saat matahari sedang cuti, mendung tebal menutupinya, kita menjadi-jadi bertanya. Pertanyaan dimulai dengan sorot sinis mata kepada langit: “Kok mendung?”, “Bagaimana kalau hujan?”, “Oh, bagaimana jemuranku?”, “Kenapa aku jadi males kalau mendung begini?” Kejadian tak biasa membikin kita gila tanda tanya.

Mungkin sudah jadi pekerjaan otak manusia, kesan terikat dengan penilaian dan anggapan. Sesuatu yang biasa terduga lebih mudah terlupakan. Kita kaget dengan orang memilih hal-hal biasa. Kekagetan itu bersalaman tanda tanya. 


Marhamah, penulis tinggal di Pasuruan

Jaket, Jaket, Jaket

Kartika Wijayanti

JAKET, benda yang harus saya punya! Saya punya alergi terhadap sinar matahari. Begitu kena panas, kulit saya akan bintik-bintik seperti terbakar dan gatal. Maka, saya wajib memakai jaket. Jaket juga berfungsi untuk menutup tubuh bagian atas saya dari pandangan orang. Saya tidak suka. Saya termasuk aliran rapat menutup aurat. Kalau perlu, semua dikrukupi. 

Menggali memori mengenai jaket-jaket yang saya pakai sejak SMA, terentang jelas betapa jaket saya terkait erat dengan perekonomian, khususnya perekonomian keluarga. 

Jaket saya yang paling memorable sewaktu SMA adalah jaket Suzuki. Itu jaket pemberian bapak. Bapak diberi oleh orang yang membeli motor Suzuki. Jaket berwarna cokelat tua di bagian tubuh dan warna cokelat muda di bagian lengan. Lalu, ada tulisan Suzuki di belakang. Warna putih. Apakah bagus? Tentu saja tidak. Dilihat sekilas saja saya langsung tidak suka. Bukan tipe jaket yang akan saya beli kalau saya punya uang sendiri. Tetapi, yang ada hanya itu. Saya membutuhkannya. Saya terima dan pakai. 

Jaket itu menemani saya selama tiga tahun saat SMA. Meski buruk rupa, jaket itu memberikan perlindungan kepada saya sebagaimana mestinya. Ia melindungi kulit saya dari sinar matahari. Yang paling penting, ia memberikan perlindungan kepada saya dari tatapan orang terhadap tubuh saya yang memang gemuk, khususnya ketika saya berada di dalam bus. Dengan memakai jaket itu, saya memang jadi seperti lemper, tidak berbentuk sama sekali tapi saya selamat. 

Lini masa jaket saya selanjutnya adalah jaket semasa kuliah. Saya kuliah sekitar awal milenium baru. Masa itu masa yang luar biasa menyenangkan, membingungkan: masa ketika saya melihat banyak hal dan memasukkan banyak nilai dan gaya berpakaian yang hype waktu itu.  Pilihan jaket saya waktu kuliah adalah jaket kain semacam anak-anak aktivis kampus. Wajar kalau saya lihat dari kacamata saya saat ini, 2021. Waktu itu euforia reformasi. Mahasiswa berjaya, Soeharto tumbang. Superhero! Pahlawan! 

Jaket yang booming waktu itu adalah jaket kain model baju safari dengan dua saku di depan lalu dengan banyak emblem. Biasanya bendera merah putih. Warna yang sering dipakai adalah hijau army dan hitam. Pokoknya kalau sudah pakai, keren banget. Lalu, saya mengadopsi itu. Pilihan baju saya waktu itu hampir tidak ada perempuannya sama sekali. Jeans, kaos hitam, sandal gunung, dan ransel besar. Untuk saya, waktu itu saya ingin menunjukkan bahwa saya tidak mau tunduk kepada aturan. Saya mau menunjukkan bahwa saya juga mahasiswa yang menjadi pahlawan. Meski tidak langsung, tetapi saya bangga banget.

Tahun-tahun berlalu, sejak saya selesai kuliah. Pilihan jaket saya pun berganti. Saya tidak lagi suka jaket ala aktivis mahasiswa seperti itu. Selera saya berubah karena mungkin pertemuan dengan banyak orang dengan berbagai macam selera dan pandangan mengubah banyak hal dalam diri saya. Mungkin saya menemukan bahwa saya bergerak ke arah yang lebih dewasa secara pemikiran. Mungkin saya tidak lagi memedulikan citra dari yang ditampilkan oleh pakaian. Mungkin saya sudah menemukan diri saya dan menemukan siapa saya seiring dengan bertambah panjangnya perjalanan yang saya tempuh. 

Di era ini, ada tiga jaket epic yang menjadi andalan saya. Satu jaket berwarna hijau army yang saya beli di Matahari Galeria Mall seharga Rp 150.000, di boks diskonan. Satu jaket berwarna merah merek Nevada masih keluaran Matahari seharga di bawah Rp 100.000, masih di boks diskonan. Sebagai anak muda yang masih kere zaman segitu, mendapatkan diskonan di Matahari adalah berkah tujuh turunan yang tidak terhingga. Jaket ketiga adalah jaket berwarna cokelat milo dengan hoodie. Jaket merek Hugo Boss ini hadiah seorang sahabat yang sudah berpulang. Jaket cokelat ini adalah goodie bag dari Berlinale Film Festival 2008, tempat sahabat saya diundang menjadi salah satu pesertanya. 

Ketiga jaket ini adalah jaket kesayangan saya. Dari segi bahan, ketiganya sangat enak jatuhnya di kulit dan tubuh. Memeluk tubuh saya dengan pas. Tidak kebesaran dan tidak kekecilan. Saya merasa sangat menyatu dengan mereka bertiga. Ketiganya menemani saya ke mana pergi. Bekerja, jalan kaki, main, pacaran, dan bersepeda (pada era ini saya bersepeda ke tempat kerja) sungguh sangat menyenangkan dengan adanya mereka bertiga. 

Jaket hijau army saya memiliki potongan sederhana. Dengan zipper sampai ke bawah dagu dengan kerah tegak, saku di kedua sisi pinggang, dan kerutan di bagian pinggang. Ketika bertemu pertama kali dengannya di boks, saya langsung jatuh cinta dan berkata dalam hati, ini aku banget. Saya suka sekali dengan detailnya yang bersih dan sederhana. Itu saya banget. Dan warnanya juga saya suka sekali, hijau army. Warna yang gagah dan ketika memakainya saya merasa sangat berwibawa.

Jaket army seperti ini sepertinya memang terinspirasi dari jaket seragam tentara. Awalnya adalah jaket tentara angkatan darat Amerika M-65 yang kemudian menjadi ikon fashion karena kesan dan citra gagah yang ditampilkannya. 

Sebenarnya, hal ini lucu karena tentara militer juga polisi sering dituding sebagai antagonis di berbagai teks, seperti misalnya di dalam Eka Kurniawan (Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas). Polisi ditampilkan sebagai penyebab dari impotennya Arjo Kawir karena dia dipaksa melihat dua polisi yang memperkosa seorang perempuan gila bernama Rona Merah. Militer yang sering ditampilkan di dalam cerita-cerita berlatar G 30 S PKI. Meski selalu ditampilkan sebagai antagonis, militer dan polisi juga ditampilkan sebagai pahlawan di berbagai film, khususnya film Hollywood.

Sebutlah film yang sangat ikonik di era 1990-an, Speed (1993), yang dibintangi oleh Keanu Reeves dan Sandra Bullock yang akhirnya mempopulerkan seragam pasukan khusus LAPD (Los Angeles Police Department) lengkap dengan potongan rambut cepak crew cut a la polisi atau Iko Uwais di dalam The Raid (2011). Seragam militer dan polisi pada akhirnya dibongkar citranya dari antagonis menjadi pahlawan melalui film-film populer itu. Seragam yang memiliki kesan kaku dan kejam digeser menjadi citra gagah, pelindung, dan pahlawan. Manusia di alam bawah sadarnya tampaknya memang memasukkan ikon semacam militer dan polisi, mungkin masih tetap mendambakan dalam bentuk yang lain. Lebih tepatnya, manusia membutuhkan pahlawan.

Melalui budaya populer, jaket dan seragam militer diproduksi ulang menjadi semacam counter culture dari apa yang sudah ada.  Dan, hal itu berhasil. Jaket army dan pernak-perniknya sekarang sudah menjadi ikon fashion dan street style andalan banyak orang, termasuk saya.  

Jaket Nevada merah saya memiliki garis yang sederhana, berbahan katun dan sangat nyaman dipakai. Zipper lurus ke atas sampai bawah dagu. Dua saku di pinggang. Simple. Bersih. Simplicity is the best. 

Jenis jaket seperti milik saya ini termasuk ke dalam variasi varsity jacket. Sejarah panjang varsity jacket dimulai dari tim baseball Harvard sekitar 1865. Jaket tersebut merupakan simbol identitas tim baseball. Ciri khas jaket varsity adalah huruf yang dibordir di bagian dada kiri. Jaket ini juga merupakan simbol prestise karena bisa masuk ke dalam suatu tim olahraga tertentu di kampus, yang tentu saja tidak sembarang mahasiswa bisa masuk ke dalam tim tersebut. Ketika sudah memakai jaket tersebut, itu berarti ia hendak menunjukkan kelas dan derajatnya di lingkungan pergaulan kampus. Dan biasanya, para anggota tim olahraga tersebut akan meminjamkan jaketnya kepada pacarnya. Bisa dibayangkan bukan, bagaimana derajat dan kepopuleran gadis yang bisa menjadi pacar salah satu anggota tim olahraga kampus dan memakai jaket kebanggaan tim pacarnya? Wow banget pastinya. 

Pada suatu masa, jaket varsity diadopsi oleh kebudayaan modern menjadi salah satu bagian dari fashion dan item yang harus dimiliki oleh anak muda untuk tampil keren. Jaket ini juga sering muncul dalam film-film remaja Amerika dan menjadi salah satu ikon fashion. 

Salah satu film remaja yang populer masa 1980-an adalah The Breakfast Club (1985). Salah satu karakter yang ada di dalam film ini, Andrew Clark (diperankan oleh Emilio Estevez), adalah seorang atlet basket sekolah dan merupakan siswa yang populer. Dalam film ini, Andrew memakai jaket varsity biru dengan bordir di dada kirinya. 

Jaket ini kemudian muncul dan berkembang dengan berbagai macam variasi, dengan zipper sampai di bawah leher atau dengan hoodie. Termasuk salah satu variasinya adalah jaket ketiga saya. Jaket ini berwarna cokelat “milo”, keluaran Hugo Boss, dan merupakan hadiah seorang sahabat yang sudah lama berpulang. Selain nilai historis dan kenangannya untuk saya,  jaket ini memang menjadi kesayangan. Saya memakainya ke mana saja. Berjalan kaki, bersepeda, dolan, dan berangkat kerja. 

Jaket ini sangat nyaman digunakan dan sangat menunjang penampilan. Terlepas dari mereknya Hugo Boss yang memang jaminan mutu untuk setiap produk yang mereka keluarkan, jaket varsity ini memberikan kesan kasual, muda, dan penuh dengan energi. Ditambah lagi padanan tepat untuk jaket ini adalah kaos, jeans, dan sneakers. Semakin kuat kesan muda dan penuh energi itu. Saya merasakan benar energi itu. Lumayanlah, saya jadi bisa mengirit muka lima hingga enam tahun! 


Kartika Wijayanti, penulis suka sekali memakai jaket dan sneakers, tinggal di Jogjakarta

Kita dan Kampung Bertiang

Margarita Riana

TIANG-TIANG masuk kampung. Tiang hitam kecil ditanam. Kabel-kabel hitam direnggangkan dan dipasang serapi mungkin dari satu tiang ke tiang yang lain. Bukan tiang listrik. Tiang ini berukuran lebih kecil diameternya dari tiang listrik. Biasanya berwarna hitam. Inilah tiang kabel telepon. Kabel-kabel telepon diganti dan diperbaharui. Kabel yang menghubungkan kota-kota di dunia. Kabel yang membawa keajaiban. Kata-kata tersusun dalam kalimat tersampaikan dalam hitungan menit bahkan detik. 

Tiang besi berdiri tegak di sepanjang gang di Kampung Sayidan berusaha serapat mungkin dengan tiang listrik besar. Tiang hitam isyaratkan kemajuan dan modernitas di kampung. Kampung tengah kota tidak boleh tertinggal. Pemasangan cepat dilakukan. Penggantian kabel telepon dilakukan dengan cepat disertai pemasangan boks kecil putih yang bisa menyampaikan gelombang sering disebut modem. Kampung wisata yang modern tercipta. 

Tiang listrik besar tidak lagi sendiri. Tengoklah ke atas saat ada di gang selebar 1,5 m. Indahnya langit biru di siang hari dihiasi garis-garis hitam. Ya, itulah kabel penambah hiruk pikuk langit. Bermacam-macam kabel rupanya. Kabel-kabel saling bertumpuk dan menyilang. Kabel-kabel saling berpegangan erat satu sama lain enggan jatuh terkulai di atas konblok gang.

Orang-orang beraktivitas seperti biasa. Tiang itu dirasa tidak terlalu mengganggu. Orang naik motor dengan mudah tanpa mengenai tiang, tanpa menabraknya. Tiang tempat kabel yang membawa kecanggihan. Pengurus kampung memasang beberapa modem untuk hotspot. Kotak itu ada di tempat-tempat strategis di mana orang-orang berkumpul dengan bebas dan mudah, seperti di pos ronda dan di depan balai kampung.

Jaringan internet rupanya menjadi salah satu kebutuhan saat ini. Himbauan pemerintah untuk bekerja dan belajar dari rumah memaksa semua orang untuk bekerja dengan sambungan internet ini. Bolehkah sekarang menyebut jika sekarang jaringan internet menjadi kebutuhan primer? Untuk menggunakan jaringan ini pastilah membutuhkan ponsel, laptop, atau alat-alat modern lainnya.

Kita ingat reenungan: “Yang sebenarnya tidak membutuhkannya adalah orang-orang yang merasa kesepian. Mereka merasa terasing kalau sendirian dan merasa perlu bicara sama seseorang. Yang lain lagi adalah mereka yang ingin pamer bahwa mereka diperlukan sekali, apalagi dalam hal bisnis.” (Myra Sidharta, Seribu Senyum dan Setetes Air Mata, 2015) 

Myra Sidharta menuliskan kalimat-kalimat tentang orang-orang yang tidak membutuhkan ponsel dalam esainya berjudul “Cara Terbaik Menggunakan Ponsel”, yang ditulis sekitar rentang waktu tahun 1982-2011. Di awal esai, Myra mengajak kita berpikir siapa saja manusia di Bumi ini yang membutuhkan ponsel. Dia bahkan menggunakan tulisan seorang penulis terkenal, Umberto Eco, yang menyebutkan bahwa ada lima macam orang yang memakai ponsel. Tiga yang betul-betul memerlukannya (orang cacat yang perlu bantuan dokter, orang profesional yang serius dan dapat dihubungi dalam keadaan darurat, dan orang-orang yang berselingkuh supaya bisa bikin janji rahasia) dan dua lagi yang tidak memerlukan.

Era ini menjadikan semua orang memerlukan ponsel. Orang yang tidak membutuhkannya, seperti orang yang kesepian dan orang yang ingin pamer, berpeluang sangat besar menjadi orang paling sering menggunakannya. Pada 2021, ponsel tidak hanya digunakan sebagai alat komunikasi tetapi juga alat mengajar, belajar, berdoa, dan alat pamer. Orang-orang memegang ponsel di mana-mana.

Rasa takut sendiri. Rasa takut tidak diakui. Mengunggah setiap detail kehidupan. Mengunggah pencapaian. Ponsel era 2021 disebut posel pintar. Pintar untuk membuat banyak orang diam menatap ponsel. Ponsel pintar dilengkapi dengan kepintaran mengakses jaringan internet. Jaringan yang menghubungkan seluruh dunia dengan hanya menggunakan jari-jari

Internet diakses dengan mudah dengan adanya hotspot. Pemasangan yang tepat di era orang bekerja dan bersekolah dari rumah. Orang-orang mulai berkumpul agar terhubung dengan jaringan nirkabel ini. Tugas-tugas sekolah dapat dengan mudah diunduh. Anak dan orang tua berkumpul untuk mengerjakan tugas. Semakin lama, anak-anak berkumpul dengan teman sebayanya. Tanpa orang tua.

Tawa lebih nyaring terdengar. Umpatan-umpatan terlontar tanpa pengawasan. Masing-masing anak memegang gawai. Sibuk memencet gawai dan berceloteh tentang permainan. Anak-anak bermain bersama dengan duduk tanpa tatap muka di tempat-tempat dengan hotspot itu. Anak-anak lelah duduk bermain.

Tak ada lagi tawa di lapangan badminton kampung. Lebih menarik rupanya berada di pos dan bermain permainan online. Tak ada orang tua yang sibuk berteriak memberi nasihat: Bicara yang sopan! Jangan main sepeda seenaknya di gang! Lihat anak-anak kecil! Ayo yang baik sama adik-adik yang lebih kecil! Lebih tenang pastinya. Tapi, kita malah tambah pikiran antara yang lalu dengan sekarang yang bertiang. 


Margarita Riana, penulis tinggal di Yogyakarta

Pada Mulanya Nama

Yuni Ananindra

Senin, Selasa, Rabu, Kamis

Jumat, Sabtu, Minggu

Itu nama-nama hari

Senin sekolah lekas pintar

Anak yang pemalas tidak naik kelas

DI tahun-tahun silam ketika kepingan CD masih ramai dijual di toko atau emperan pasar, lagu riang ciptaan Pak Kasur itu bisa terdengar di rumah-rumah sebagai “teman” anak sebelum menuju besar. Tak baru lagi bahwa lagu kerap dimanfaatkan oleh anak-anak dan bahkan orang dewasa untuk sarana belajar. Mengenal nama menjadi salah satu pintu manusia untuk belajar mengenali dunia. Itu “sapi”. Itu “langit”. Itu “meja”.  Itu “nasi”.  Sebelum takdirnya turun ke Bumi tiba, Nabi Adam juga telah punya riwayat pengetahuan tentang nama-nama benda. Sebuah hal yang pada akhirnya membuat para malaikat tunduk hormat kepadanya.

Ketika manusia-manusia asing punya kebutuhan untuk saling bersinggung hidup, identitas adalah barang utama yang perlu diketahui satu sama lain. Tak kenal maka tak sayang. Pepatah itu gambaran bahwa identitas yang dibawa manusia akan memengaruhi cara manusia lain (bahkan juga diri sendiri) untuk berinteraksi. Anak-anak sekolah di level dasar biasanya diajari materi perkenalan. Nama adalah identitas pertama yang disebutkan, barulah disusul dengan yang lain-lain semisal usia atau alamat tinggal.

Kadang, nama dianggap sebagai jalan keluar. Dunia transportasi kita punya noda dan berharap bisa dibersihkan dengan nama. Bus-bus besar bertrayek jauh pernah punya kisah penggantian nama diri, semacam ruwatan, berharap kesialan-kesialan yang kerap mendatangi sudi minggat dan citra menjadi bersih. Sayangnya, apa yang sudah dilakukan tak terlalu membawa perubahan ke arah yang diinginkan. Akar masalah yang sebenarnya tidak terletak di dalam nama. 

Belum lama ini Gunawan Maryanto berpulang. Selain bergelut di dunia film dan teater, ia juga dikenal sebagai seorang penulis. Kepada kita, ia meninggalkan kumpulan puisi dengan judul Kembang Sepasang (2017). Jika membaca, kita bisa menemukan beberapa puisinya mengandung nama, baik sebagai judul ataupun di dalam tubuh puisi. Bait dalam puisi berjudul “Windradi” terbaca: sebut aku batu/ sebab aku tahu/ tak ada lagi suaraku/ tak kubagi cintaku/ bahkan kepadamu. Bagi sebagian orang, nama ini belum pernah mampir di ingatan, kalah populer dibandingkan dengan nama-nama keluarga Pandawa. Windradi adalah bidadari kayangan. Sebagai bidadari, ia cantik. Ia akhirnya berjodoh dengan Resi Gotama dan  berketurunan Dewi Anjani, Guwarsi, dan Guwarsa. Selain Windradi, nama-nama tokoh wayang yang lain dalam buku Kembang Sepasang, misalnya, si kembar Nakula-Sadewa, Kunti, Arjuna, Anjani, Amba, Supraba, Sumbadra, Surtikanti, dan Setyawati. 

Dalam dunia wayang, tokoh-tokoh lumrah punya nama lain. Windradi kadang disebut sebagai Dewi Indradi. Kedua anaknya yang laki-laki, Guwarsi dan Guwarsa juga punya nama lain, Subali dan Sugriwa. Anak-anak SD di Jawa pernah pening akibat diminta mengerjakan soal-soal terkait tokoh pewayangan. Mereka mungkin sempat bingung membedakan siapa itu Bima, Bimasena, Werkudara, Bratasena, Bayusuta, yang ternyata adalah satu sosok yang sama. Kesulitan menghafal nama-nama itu kadang belum cukup. Anak-anak masih harus menghafal nama gaman (senjata) atau silsilah keluarga.

Nama tak hanya rumit di kenyataan. Selain dalam dunia wayang, dalam novel pun para penulis  sering serius memikirkan nama tokoh ceritanya, seserius memberikan nama kepada anak. Pemilihan nama tokoh kadang ingin disesuaikan dengan karakter atau suasana yang hendak dibangun, atau paling tidak, nama itu ingin melekat kuat di benak pembaca karena meninggalkan kesan khas. Sabda Armandio menulis novel berjudul Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya (2015). “Kamu” yang biasanya dipakai sebagai kata ganti persona itu digunakan sebagai nama tokoh cerita. Si tokoh aku dan Kamu punya teman bernama Permen. “Nama asli atau bukan, aku tidak tahu. Sampai saat ini, aku belum pernah bertemu dengan seseorang yang bernama ‘Permen’.” Begitu reaksi tokoh aku. Nama juga akan memengaruhi asosiasi ketika (pertama) tahu atau berinteraksi. “Permen gadis yang manis, ini agak aneh, maksudku adakah permen yang tidak manis? Akan tetapi, begitulah kenyataannya. Wajahnya tirus dan tidak dirias.” Di bab selanjutnya diceritakan bahwa aku dan teman-temannya pergi bersama. Pembaca tidak lagi dihadapkan dengan nama orang yang kurang lazim, melainkan pada nama jalan yang berasa biasa saja. “Kamu memarkir mobil di depan sebuah restoran vegetarian di Jalan Surya Kencana.” 

Nama jalan bisa meminjam apa saja: bisa nama pahlawan, tokoh, kota, tanaman, dan sebagainya. Oktober lalu mulai terjadi perdebatan mengenai nama sebuah ruas jalan di Jakarta. Nama jalan kali ini adalah urusan diplomatik Indonesia dengan negara lain. Pemberian nama jalan menggunakan nama tokoh ini jadi berita nasional dan mendapatkan tanggapan yang beragam. Masyarakat Indonesia tak semuanya sepakat. Mereka yang menolak, menganggap bahwa tokoh yang hendak dipakai sebagai nama jalan itu punya riwayat buruk dan semestinya tak pantas diabadikan menjadi nama jalan. Bagi yang setuju, mereka mendudukkan masalah penamaan ini secara berbeda.

Nama bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ia terikat dengan cara pandang manusia terhadap kehidupan sosialnya. Setelah hidup sekian tahun, manusia  akan punya akal sosial sebagai efek pergaulannya dengan dunia luar. Nama-nama yang dikenal kadang tak lagi sekadar kata. Sekian orang akan bisa menandai bahwa nama-nama mengandung petunjuk. Karena itulah nama-nama mungkin berganti.  Nama-nama bisa diciptakan sesuai kepentingan dan keadaan yang dihadapi. 


Yuni Ananindra, penulis tinggal di Yogyakarta

Hiburan di Keseharian

Arif Rohman

DI pagi hari, kita mulai menjalani rutinitas. Bagi saya, pagi hari berarti bersiap mengurus anak pergi sekolah dan berangkat bekerja. Sore hari pulang dan biasanya mulai menikmati hiburan. Hiburan saya berupa menonton film atau mendengarkan musik. Sesekali hiburannya berupa membaca buku.

Buku sudah menjadi hiburan saya sejak duduk di bangku sekolah, tepatnya ketika SMA. Saat keseharian jauh dari rumah, tinggal di pesantren yang minim hiburan: tidak ada televisi dan belum memiliki ponsel yang bisa memutar musik atau radio. 

Perkenalan dengan perpustakaan membawa saya menekuni hari demi hari dengan meminjam buku. Mulai dari membaca buku motivasi, novel, cerita horor, hingga kliping koran berupa komik dari terbitan hari Minggu. 

Setelahnya bisa menikmati hiburan berupa mendengarkan musik yang disukai atau menonton film yang digemari. Hari-hari dipenuhi hiburan berupa tontonan yang memanjakan mata dan telinga. Berkembangnya situs Youtube, membuat hiburan ini terus bertahan. Hingga beberapa hari ini, hiburan berupa tontonan masih mendominasi.

Perlahan hiburan ini menjadi pertanyaan saya. Apakah ini sudah sesuai? Apakah ini tidak mengganggu keseimbangan hidup? 

Coba kita bayangkan perkembangan teknologi informasi saat ini. Pagi hari buka ponsel pintar, geser layar ke kiri, seketika muncul rekomendasi berita terkini. Biasanya muncul sesuai dengan apa yang sering kita lihat. Algoritma, itulah sebutan cara kerja informasi yang muncul di layar kita. 

Misal, hari ini kita buka situs komik online. Ketika nanti buka Youtube, di beranda kita disuguhi video yang membahas komik. Jika kita suka menonton video dinosaurus, saat membuka Youtube, di beranda kita langsung disuguhi beragam video tentang dinosaurus. Begitupun jika kita suka menonton Squid Game. Tayangan serupa akan lebih sering muncul di layar kita.

Menonaktifkan pemberitahuan atau notifikasi adalah jalan yang perlu ditempuh. Saya semakin menyadarinya setelah menonton film The Social Dilema. Film yang menyorot cara kerja algoritma di sosial media, yang tidak hanya membuat kita senang berlama-lama menonton layar ponsel. Pun, secara tidak langsung mengendalikan perilaku kita.

Media sosial yang kita kira gratis sebenarnya kita bayar dengan perhatian kita. Inilah satu penyebab munculnya ungkapan: teknologi mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Masing-masing dari kita jadi sibuk dengan layar ponsel.

Media sosial yang kita kira gratis sebenarnya kita bayar dengan perhatian kita.

Belakangan, hiburan saya masih menonton video selain film, ada update video dari beberapa Youtuber. Saya juga sedang mendalami terkait keterampilan menggambar. Menonton Live Instagram tentang cara berjualan gambar di situs POD, membangun karir sebagai pekerja lepas, dan membaca buku terkait dalam bahasa Inggris yang saya baca dengan Google Translate.

Perhatian yang tertuju ke tayangan di layar ponsel akhirnya kembali ke buku fisik. Saya memesan buku The Art of The Good Life karya Rolf Dobelli, Cetakan Ketiga (KPG, 2021) dan Belajar Tanpa Batas karya Inge Tumiwa (Kawan Pustaka, 2021).

Buku Rolf Dobelli saya baca setelah mencicipi versi bahasa Inggrisnya terlebih dulu, mengingat bahasannya saya suka, saya pun membeli versi bahasa Indonesianya. Membaca lewat Google Translate sebenarnya tidak selalu menyusahkan atau mbingungi. Tergantung penulisnya kebanyakan memakai metafora atau tidak, misalnya buku Lisa Congdon, Find Your Artistic Voice.

Buku Belajar Tanpa Batas, saya baca karena membahas pendidikan di rumah, buku ditulis tidak dengan niatan agar anak harus sekolah di rumah. Mengingat judul buku Inge Tumiwa yang sebelumnya: Unschooling. Buku Belajar Tanpa Batas mencoba memberi pemahaman agar kita tidak perlu menjadi orang tua yang sempurna, dan membebani anak dengan ekspektasi orangtua yang berlebihan.

Dari buku Rolf Dobelli, saya mulai menyadari perkembangan teknologi tidak hanya membawa kemudahan saja. Ada konsekuensi, ada akibat buruknya. Ia mencontohkan hadirnya Email yang mengurangi peran pengiriman pesan lewat kurir pos. 

Kita mulanya merasa beruntung dengan hadirnya Email, karena memudahkan pengiriman pesan atau potret keadaan terbaru dengan bantuan internet. Seketika terkirim, seketika berkemungkinan terbaca. Tapi, kita sebetulnya perlu menyadari, dampak di balik mudahnya pesan yang terkirim itu, ada ribuan pesan di Email yang muncul setiap harinya, entah pemberitahuan dari Facebook, iklan dari situs tertentu, atau spam yang tidak perlu. Kita jadi memerlukan waktu untuk memerhatikan segala jenis pesan yang masuk, agar bisa mengelompokkan itu termasuk pesan penting atau perlu dihapus.

Uniknya, dalam biologi, hal semacam ini juga ada, misalnya burung yang memiliki bulu-bulu yang indah. Mereka akan mudah mendapatkan pasangan, sekaligus mudah dimangsa oleh predator karena mencolok. Contoh ini membuat saya merasa perlu keseimbangan dalam berteknologi. 

Sudah setahun ini saya matikan semua notifikasi di ponsel, termasuk Whatsapp. Saya belakangan merasa kelelahan dan tidak fokus karena Youtube dan fitur internet secara keseluruhan. Saat saya mencari ebook satu judul di situs buku online berbahasa Inggris misalnya, saya seringnya malah tertarik mengunduh buku sejenis sampai belasan judul. Dari kebutuhan satu judul dengan ukuran file kira-kira 5 Mb misalnya, praktiknya membuat saya mengunduh belasan buku yang jika ditotal ukuran file-nya sampai ratusan Mb. 

Di laptop jika kebiasaan download ini digabung dengan ukuran file film atau video yang saya ambil dari internet lainnya. Membuat memori laptop cepat berubah warna jadi merah, alias penuh, dan dampak lanjutannya mengurangi kinerja laptop. Kemudahan dari laptop pun memiliki dampak buruk sebagaimana Email, atau burung dengan bulu yang indah. 

Saat ini saya perlu mengurangi berinteraksi dengan teknologi. Lebih tepatnya mengurangi perhatian terhadap notifikasi atau video rekomendasi yang muncul di beranda saat berselancar dengan internet.

Buku yang juga saya baca diberi judul Sejak (Bilik Literasi, 2021). Buku ini ditulis oleh delapan ibu yang sebagian besar mendidik anaknya di rumah atau homeschooling. Bahasannya tentang keseharian ibu-ibu. Di pengantar, kita membaca penulis dalam buku ini semula sering belajar setiap Selasa sore. Melihat profil penulis yang domisilinya berbeda-beda, kemungkinan kumpulan tulisan ini hasil dari kelas online. 

Buku ini saya baca di sela menunggu motor di bengkel. Membaca “obrolan” dalam bentuk tulisan memang lebih cocok untuk saya. “Obrolan” tidak perlu langsung ditanggapi. Waktu menunggu yang biasanya digunakan untuk bengong, ketika digunakan untuk membaca, membuat saya memikirkan kehidupan ibu rumah tangga yang berbeda dengan lingkungan saya. 

Hampir setiap pagi, ada ibu-ibu berkumpul di teras rumah tetangga, menunggu tukang belanja sayuran keliling lewat sambil mengobrol. Entah ngrasani orang atau tidak, kegiatan semacam itu lumrah. Mungkin membahas tingkah lucu anaknya di rumah, atau nakalnya anak yang sedang bertumbuh, atau kelakuan tetangga yang menarik perhatian. 

Ibu-ibu berkumpul untuk menulis itu langka. Meski buku ini tidak memberi pembahasan yang seragam, keragaman tema dalam buku ini saya anggap wujud apresiasi untuk ibu-ibu yang mau meluangkan waktu menulis.

Ini ibu (Yayasan Sami Sami Suningsih: 2021), merupakan buku ketiga yang saya khatamkan. Isi buku ini hampir mirip buku Sejak, hanya saja kesannya lebih rapi dan tertata. Keseharian ibu rumah tangga, apa yang mereka pikirkan dan lakukan jadi tema tulisan di buku ini. Buku keempat berjudul  Air Mata Sang Pohon Purba gubahan Bu Kasur dan Naning Pranoto berisi kumpulan cerita dari berbagai negara. Bu Kasur, pencipta lagu, ini ternyata menulis buku anak. Buku hadir secara serius karena melibatkan lembaga kebudayaan dari negara lain, seperti Thailand, Turki, Brazil, Denmark, Australia, Korea, Prancis, Jepang, Malaysia, Rusia, hingga Belanda. Buku terbit berulang kali. Saya ini membaca cetakan kelima, tahun 2011.

Buku kelima berjudul Kuasa Guru Pertama (Bukukatta, 2020) beirisi kumpulan tulisan dari guru-guru. Para guru dari berbagai sekolah berkumpul dan menuliskan kisah pertama kali mengajar. Buku dibuat atas kerja sama PBSI FKIP UMS. 

Jika dikaitkan dengan hiburan, membaca buku bagi saya bisa dibilang hiburan. Dan buku adalah hiburan yang tidak agresif. Tidak seagresif Youtube misalnya. Jika kita menonton video di Youtube, setelah satu video usai kita disuguhi video lain yang tak kalah menarik. Para Youtuber memang “dikondisikan” oleh sistem algoritma agar membuat thumbnail yang clickbait, sederhananya mengharuskan membuat sampul video yang memikat penonton, syukur-syukur jika judul bisa sesuai isi video. 

Hari ini kita mulai akrab dengan hal semacam itu. Entah itu pemberian judul berita atau video, kita digiring agar terus-terusan terpaku. Seperti kalimat dalam ketikan Ms Word 2013 ketika dibuka dengan Ms Word 2007, tak ada lagi spasi antara kata yang kita ketik. Waktu jeda dari hiburan satu ke hiburan lainnya semakin berkurang. Barangkali, hiburan yang saya butuhkan hari ini bukanlah tontonan yang menarik saja, tapi bacaan yang memberi jeda dan minim notifikasi. 


Arif Rohman, penulis tinggal di Kudus

Socrates Bertanya

Ahmad Kurnia Sidik 

LELAKI itu selalu mengenakan pakaian lusuh yang sama, hidungnya lebar dan pesek, bibirnya bundar tebal, perutnya buncit. Dia botak. Mata kepiting sama dengan matanya, mempunyai jarak lebar satu sama lain, mungkin itu juga yang membuatnya memiliki pandangan luas. Hobinya berjalan tanpa alas kaki sekaligus membuat orang kesal. Kesal karena mulutnya selalu melontarkan pertanyaan-pertanyaan, aneh pula!

Lelaki itu bernama Socrates (470-399 SM). Socrates adalah lelaki paling buruk rupa di Athena, tetapi sumbangsih dan namanya masih terkenang sampai sekarang. Dirinya digadang-gadang sebagai filsuf terbesar yang pernah ada. Itu semua bukan tanpa alasan. Dirinya berbeda daripada filsuf pendahulunya (Thales, Anaximender, Anaximenes, Permenides, Heraclitus, dan Democritos) yang wajahnya diarahkan ke langit. Mereka ingin menjabarkan kosmos dan menguak tabir-tabir misteri alam semesta. Socrates sebaliknya, ingin menurunkan wajahnya ke bumi, melihat depan-belakang, kanan-kiri, dan mulai bertanya tentang sekitarnya. 

Cara Socrates bertanya bisa kita temukan dalam buku The Socrates Express  garapan Eric Weiner, kebetulan sudah diterjemahan ke bahasa Indonesia, diterbitkan oleh Qanita. Buku penuh pertanyaan “bagaimana” ini menghadirkan keintiman langka dari filsafat. Tak jarang filsafat membuat antipati pendengarnya karena dalam pencarian kebenaran melaluinya dianggap penuh dengan bualan bahasa yang melambung-lambung di awang-awang, rumit dan berbelit-belit pembahasannya, serta banyaknya nama orang-orang agung yang harus dihapalkan, tapi dari buku satu itu berbeda. 

Kita kembali ke filsuf besar dari Yunani kuno tadi. Dalam pikirannya, ia beranggapan bahwa kebenaran itu sekaligus sudah dan belum kita miliki. Apabila kita sudah memiliki sepenuhnya kebenaran, untuk apalagi kita mencarinya. Tetapi, apabila kita tidak memiliki sama sekali kebeneran itu, mustahil mencarinya, karena tidak ada gambaran sedikit pun tentang apa yang harus dicari. Oleh karena itu, menurut Socrates kita perlu berfilsafat (atau bertanya) untuk mencari kebenaran.

Pertanyaan, bagi Socrates, tak ubahnya seperti pisau bermata dua, sebagai pencari hakikat kebenaran di satu mata, juga impuls kesadaran masyarakat mulai dari Athena kuno hingga kini di mata lainnya. Pembesar-pembesar di Athena rasanya akan lebih memilih jalan lain dan berputar daripada harus bertemu Socrates di jalan yang sama. Sang jendral yang bertemu dengannya tidak bisa menjelaskan apa itu keberanian, si penyair kesulitan mendefisinkan apa itu puisi. 

Sekarang, bagaimana dengan kita yang mengaku sebagai pembaca ataupun penulis seandainya bertemu Socrates yang bertanya “apa itu bacaan” atau “apa itu tulisan”. Kita mungkin dicecar lagi pertanyaan “untuk apa dan bagaimana melakukan semua itu”.

Dengan berbagai pertanyaan sederhana (dan tak jarang mencecar) tersebut, Socrates biasanya memulai percakapan, dirinya ditampilkan seolah sebagai manusia paling bodoh, namun, semakin dalam percakapan terjadi, menjadikan lawan bicaranyalah yang justru mengetahui bahwa ia tak tahu melebihi Socrates sendiri, Jostein Gaarder menamakan ini sebagai Ironi Socrates. Ia juga ketiban anugerah manusia paling bijaksana. Chaeropon, teman sekaligus murid Socrates suatu kali bertemu dengan peramal orakel di kota Delphi dan bertanya: “Adakah orang di Athena yang lebih bijaksana dari Socrates”? Jawabannya: “Tidak”. Socrates bijaksana karena mengetahui apa yang tidak ia ketahui. Dirinya menganggap bahwa ketidaktahuan terburuk itu ketidaktahuan yang menyamar sebagai pengetahuan.

Barangkali, untuk menemukan jawaban-jawaban ataupun informasi hari ini, kita terbantu oleh kecerdasan buatan. Dekatkan ponsel pintar dan berkata:

“Oke Google”

“Hai, ada yang bisa saya bantu”

“Apa itu pertanyaan”

“Anda lebih jago soal itu” pungkas Google dibarengi emotikon genit. Dan hening setelahnya.

“Definisi pertanyaan”

“Pertanyaan adalah sebuah ekspresi keingintahuan seseorang mengenai sebuah informasi yang dituangkan dalam sebuah kalimat tanya. Pertanyaan biasanya diakhiri dengan sebuah tanda tanya.”

Google di situ akurat. Tapi, apakah Socrates akan puas dengan jawaban seperti itu? Pertanyaan berjalan dua arah, mencari makna dan mengungkapkannya. Ketika kita melontarkan pertanyaan, di situ terselip luapan-luapan emosi diri karena rasa penasaran yang menjadi maksud kita bertanya. Sejurus dengan itu, menurut Poerwadarminta, makna adalah arti dan maksud. Maka, mungkin saja Socrates tak akan puas, ia ingin lebih luas bukan sekadar informasi tekstual ataupun arti, tapi makna.


Ahmad Kurnia Sidik, esais dan peresensi buku, tinggal di Solo 

Taman …

Ghaniey A.

GEMERCIK air dan kicau burung memanjakan telinga. Kumpulan tanaman dan bunga yang berwarna-warni memanjakan mata kala melihat sekeliling tempat nan indah. Begitulah, sedikit gambaran mengenai taman-taman di Indonesia. Taman dibuat guna bersantai, menenangkan diri di tengah hiruk pikuk kehidupan. 

Taman mengalami perubahan makna, ketika secara bahasa diubah terkesan internasional, misal dinamakan park. Makna taman secara bahasa dan imajinasi setiap manusia jadi berbeda-beda. Taman identik dengan hamparan rerumputan hijau. Taman sebagai kumpulan bunga yang ditata rapi.

Bila kita tilik kembali, taman di Indonesia terpengaruh oleh tata kota Eropa kala waktu itu, bangsa Belanda singgah di tanah Nusantara. Di Jawa Tengah tepatnya, namanya Gementee (kota praja) sekarang dikenal sebagai Magelang. Kota dengan sebutan seribu bunga itu, memiliki runtutan sejarah yang menarik mengenai taman.

Taman tak melulu jadi lokasi yang sengaja jauh dari rumah atau tempat tinggal kita. Tetapi, taman itu jadi tempat untuk menenangkan diri agar manusia bisa menyatu dan meresapi alam. Sebab, manusia jadi kesatuan dari alam itu sendiri. 

Oleh sebab itu, peradaban besar di dunia mencatat beberapa sumber literatur: tempat tinggal bangsawan dan orang Eropa pada masa lalu bertanah lapang di depan rumah, ditanami beraneka ragam bunga dan rerumputan hijau yang terawat. Di Bumi Manusia gubahan Pramoedya Ananta Toer, dijelaskan bahwa rumah Eropa identik dengan hamparan taman.

Memasuki abad ke-20, kondisi masyarakat terus mengalami perubahan. Munculnya beribu-ribu informasi membawa kita kepada adopsi kebudayaan dari cara berbusana, berbicara, hingga arsitektur. Hal itu berdampak jua dalan tata kota dan modifikasi taman bagi manusia.

Di Indonesia, taman identik dengan lokasi untuk bersenang-senang dan berpesta pora. Bahkan, taman dialihfungsikan sebagai ajang pertunjukan yang sering berbalut isu atau kerusakan lingkungan. Berserak sampah, hingga bau amis di pojok-pojok taman, menjadi tak menarik kala memaknai taman.

Bahkan, Mochtar Lubis dalam risalah Manusia Indonesia, mengkritik bahwa manusia Indonesia itu kadang keblinger, termasuk memaknai manusia dan alam yang juga tak bisa pernah dipisahkan. Lebih menohok, YB Mangunwijaya menganggap, orang Belanda itu lebih peka terhadap alam dibandingkan orang Indonesia yang selalu kagetan sehingga rela menukar taman menjadi beton-beton. Menelaah kembali pembangunisme, mendirikan bangunan menjulang tinggi dan pabrik-pabrik besar, berisiko mengancam keberadaan taman.

Taman menjadi ruang yang langka. Ketika masuk untuk menikmati komposisi suara alami dari kicauan burung hingga gemercik air yang mengalir, harus terlebih dahulu menyodorkan cuan. Dan parahnya, tanah kosong nan tenang di pinggiran kota itu sudah menjadi lahan industri, tata letak taman terkesan dipaksakan, sehingga luput dari ketenangan pikir.


Ghaniey A., penulis tinggal di Solo 

Ayah yang Terindah

Dina Aulia

MAJALAH Femina yang bertitimangsa pada 18 Juni 1987 bertajuk “Di mana Kau, Ayah Ideal?” terpatri empat foto sosok laki-laki yang menggambarkan “ayah ideal”. Selain memenuhi tugas pokoknya sebagai pencari nafkah, para ayah ini ikut andil dalam mengurusi buah hatinya. Ebiet G Ade, sang penyanyi dan pencipta lagu, memiliki rasa kesenangan tersendiri saat memandikan anaknya. Goenawan Mohammad, sastrawan dan pemimpin redaksi Tempo tengah menemani Paramita belajar.  

Achmad Hermiadi, karyawan Bank Indonesia, ia tengah menggendong bayinya, cucu dari sastrawan Aoh K. Hadimaja. Hermiadi selalu paham saat anaknya menangis pasti ada sesuatu yang terjadi pada anaknya, entah pipis atau membutuhkan susu. Begitupun Sarlito Wirawan Sarwono, psikolog yang tengah memeluk anak bungsunya. Sarlito bertutur soal “ayah gaya baru” seiring bergesernya zaman. Pergeseran peran ayah yang sebelumnya hanya bertugas sebagai pencari nafkah, kini ayah juga dikehendaki agar lebih berperan dalam urusan rumah tangga. Semakin banyak wanita yang bekerja, entah itu desakan ekonomi atau keinginan untuk berkarir menjadi tuntutan pula bagi sosok ayah untuk bisa melakukan segalanya mengganti peran ibu di rumah. 

Matthew yang diperankan oleh Kevin Hart dalam film Fatherhood (2021) untuk memperingati hari ayah, digambarkan dalam film itu sosok “ayah gaya baru” yang diusung oleh Sarlito. Matthew sebagai orang tua tunggal setelah sepeninggal istrinya melahirkan, ia dapat mematahkan perspektif bahwa seorang ayah yang biasanya kurang peka dan tidak memiliki kesabaran dalam mengurus anak, ia dapat membuktikan kalau seorang ayah (orangtua tunggal) dapat membesarkan buah hatinya hingga besar.

Sebagai orang tua tunggal, Matthew tak meninggalkan peran utamanya sebagai pencari nafkah, ia masih tetap bekerja di kantor dengan membawa anak perempuannya. Ia selalu peka saat bayinya menangis dan di rumah pun ia masih harus membersihkan rumah, mencuci pakaian dan selalu terjaga saat anaknya menangis tengah malam. Tidur tenang menjadi kenikmatan yang jarang didapat oleh Matthew. Walau begitu ia selalu senang saat bersama anaknya, mengganti popok bayi menjadi kegiatan yang menyenangkan baginya. Saat membuang popok yang penuh tahi, Matthew melempar popok itu ke ring basket yang akan jatuh tepat di tong sampah laiknya bola basket. Sialnya, sering kali popok yang penuh tahi itu tak tepat sasaran. Alhasil, tahi menempel di dinding rumahnya.    

Berperan sebagai kepala dari banyaknya kepala di keluarga membuat ayah menjadi pemikul tanggung jawab terberat bagi istri dan anaknya. Ayah menjadi cenderung kaku, keras, dan tegas. Anak hanya mengenal sosok ayah sebagai pencari nafkah keluarga. Ayah harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Cinta dan kasih sayang adalah bagian dari sang ibu. Sehingga, tak heran ketika anak menginginkan sesuatu pasti ia akan merengek ke ayahnya karena anak hanya beranggapan sumber uang adalah ayah. Setiap permintaan apapun pasti akan dituruti oleh ayah. 

Jakob Sumarjo dalam Kompas, 18 Januari 1982, menggambarkan peristiwa sebagian ayah tidak lagi dihargai dan disegani oleh anaknya sebagai pribadi orangtua, penghargaan anak terhadap ayah hanya berdasarkan isi kantongnya! Semua ayah, apapun kemujuran dan kemalangan nasibnya dia tetaplah seorang ayah yang pasti ingin dihargai oleh anaknya sebagai sosok pribadi yang dapat dibanggakan, bukan hanya sebagai alat untuk memenuhi tujuan hidup anak. Banyak anak-anak sekarang yang malu mengakui ayahnya di depan umum karena pekerjaan atau fisik ayahnya yang memalukan, sungguh miris. 

Seorang ayah hanya dibanggakan tak jauh dengan iming-iming jabatan, uang, atau tampang saja. Sosok ayah dihargai dan dibanggakan oleh anak bukan karena jabatan, uang atau tampang yang bisa mudah hilang sewaktu-waktu, tapi anak bangga dengan ayah sebagai bagian dari keluarga yang utuh di mana senang dan susah selalu dialami bersama. 

Seorang ayah tidak perlu melakukan sesuatu yang di luar kemampuannya hanya untuk “diakui” sebagai ayah oleh anaknya. “Diakui” di sini yang berarti dihargai dan dibanggakan. Ayah bukan sesuatu profesi atau pekerjaan yang dapat dipecat jika terjadi kegagalan dan tak memenuhi kualifikasi, ayah akan tetap selamanya menjadi bagian dari keluarga. Ayah harus menjadi kebanggaan karena pribadi dan sikapnya, bukan dari jabatan, tampang dan uang.

V. Lestari dalam Kompas edisi 31 Januari 1982 menyajikan tulisan bertajuk “Ayah yang Ideal”. Dia menjelaskan bagaimana menjadi seorang “ayah yang ideal” dengan dihargai oleh anak dan istri. Sebagai seorang ayah yang ideal, ayah harus selalu meluangkan dan memanfaatkan waktu untuk bersama anak, anak diajari untuk ikut andil dalam berbagai hal seperti membantu menanam pohon atau yang lainnya. Anak harus berperan aktif bukan hanya penerima saja, sistem ini disebut juga gotong royong. Sistem gotong royong akan membantu yang lain sesuai dengan porsi kemampuannya masing-masing, tak ada yang istimewa antara ayah, ibu mapun anak.

Selain waktu dan pola asuh yang harus dilakukan seorang ayah, ibu juga berperan sebagai pencipta pandangan anak kepada ayahnya. Ibu yang cenderung lebih dekat dengan anaknya akan mudah untuk mempengaruhi pola pikir anak, lewat cerita ibu tentang ayah dan cara ibu menghadapi ayah, anak akan memiliki kesan dan pandangan sendiri mengenai ayahnya. 

Pandangan anak terhadap ayah ini pula dapat berubah seiring bertambahnya umur. Ketika anak masih kecil, bisa saja ia membenci ayahnya karena selalu melarang ini itu dan mengatur segalanya. Namun saat dewasa, anak akan sadar bahwa yang dilakukan ayahnya adalah hal yang benar. Sebaliknya, jika ayahnya melakukan korupsi, bisa saja saat kecil anak selalu bangga terhadap ayahnya yang selalu menuruti apapun untuknya. Padahal itu berasal dari hasil korupsi. Saat dewasa ia akan merasa benci terhadap ayahnya karena melakukan hal yang buruk. Bagi V Lestari, ayah yang ideal adalah “ayah yang berusaha giat agar dapat memberi dalam segala kekurangannya.”

Sistem gotong-royong dalam keluarga juga dilakukan oleh Soekarno M. Noer terhadap Rano Karno. Majalah Nova edisi 27 Februari 1986 menceritakan bagaimana saat masa kecil Rano setelah pulang sekolah ia bertugas menggoreng kerupuk untuk membantu ibunya yang berjualan nasi. Soekarno juga mengajarkan kepada Rano agar menjadi orang yang disiplin dan lebih menghargai uang “Kerja keras melawan kemiskinan, mendidik diri kita sendiri untuk menjadi orang yang betul-betul disiplin dan sangat menghargai uang!” ucap Rano Karno.

Soekarno M. Noer saat itu masih menjadi seniman Senen dan belum merambah ke dunia perfilman. Mereka tinggal di kampung GTGT alias Gang Tujuh Gudang Tai di Kemayoran, tepatnya di Kepu Timur, Gang 7 Dalem, RT 7/ RW 3. Gang Kepu termasuk gang dengan padat penduduk, gang dengan panjang 400 m itu diisi oleh 6 RT. Rano tinggal di sana di rumah pavilium yang diisi dengan tujuh anggota keluarga. Cukup menyesakkan di rumah dengan 3 petak itu. Hidup dengan kemelaratan, Soekarno mendidik anak-anaknya dengan keras agar hidup anaknya menjadi lebih baik darinya.

Setelah merambah ke dunia aktor, Soekarno M. Noer mulai mengajak Rano untuk memperkenalkan dunia perfilman hingga akhirnya Rano menjadi bintang film. Bahkan, menjadi sutradara dan produser film Doel yang juga diperaninya. Seorang anak yang mengikuti jejak orangtua ini, tak terlepas dari relasi seorang ayah dalam keluarga. M.A.W. Brouwer dalam bukunya Pergaulan (1986), mengatakan: “Melalui ayah, keluarga mengadakan relasi dengan masyarakat dan dalam keluarga sang ayah mewakili aturan. Kalau ibu melindungi dan mempertahankan, ayah merebut dan membuka jalan untuk berbagai kemungkinan.” 

Selain membuka jalan karier bagi Rano Karno, Soekarno M. Noer juga memiliki aturan pakem bagi Rano agar selalu bersikap sederhana dan tak merasa superior dibanding saudaranya yang tidak bermain film. Di Kompas edisi 15 September 1973, terbaca: “Rano Karno main Si Doel Anak Betawi Mendapat Rp 0,5 Juta tapi tiap harinya hanya boleh bawa Rp 50,- untuk jajan di sekolah.” Walau Rano sebagai seorang bintang film, bukan berarti mengubahbagaimana Soekarno M. Noer dalam bersikap dan mendidik Rano sama dengan saudaranya yang tidak bermain film. Mereka diberikan uang jajan yang sama, sama-sama sekolah dengan naik bus atau bemo dan tanpa perbedaan apapun. Soekarno khawatir kalau ketenaran yang dimiliki Rano akan berakibat buruk pada jiwanya, ketakutan akan merasa lebih hebat dari teman-temannya dan merasa lebih dari saudara-saudaranya. 

Soekarno M. Noer juga mengajarkan kepada Rano, kesuksesannya karena dorongan orang-orang sekitar. Maka, ketika ia menerima honorarium, semua kakak dan adiknya beserta pembantunya pun akan kebagian jatah. Mungkin saja pada saat kecil Rano sangat membenci ayahnya, karena ayahnya sangat pelit dengan memberikan uang jajan yang sedikit. Padahal, saat itu dia sudah memiliki penghasilan sendiri yang lumayan besar. Rano masih harus memakai bemo atau angkutan umum ke sekolah di saat dirinya sudah menjadi artis film, dan mungkin saja pada saat itu Rano berpikir bahwa ayahnya tidak adil terhadap dirinya.

Tapi, Rano sekarang paham dan mengerti mengapa ayahnya begitu keras terhadapnya. Rano pun selalu ingat akan pesan-pesan ayahnya: “Rano, kau anaknya orang melarat, tapi kau tidak boleh terlantar dan mati kelaparan karena kemelaratan ini. Kita harus bangkit, tuhan tidak akan menolong kita, kalau kita tidak berusaha menolong diri sendiri, kau harus rajin dan ulet bekerja..!” Hal itu terpatri dalam dirinya saat memimpin sebagai Gubernur Banten pada tahun 2017. Rano menjadi sosok pribadi yang banyak disukai di kalangan masyarakat maupun keluarga.

Dalam buku Si Doel (2016) yang ditulis Rano Karno, banyak menceritakan sosok Rano dan perjalanan kariernya. Rano dikenal sebagai orang yang sederhana, jujur, penyayang, dan lucu oleh orang terdekatnya. Bagi Kinanti, Rano adalah paman yang pendiam, pintar, cerdas, religius, tegas, sabar, penyayang, berkarisma sekaligus lucu. Bagi Yessy Gusman, Rano adalah sahabat yang baik dan jujur. Bagi Mandra, Rano adalah sosok yang sangat sederhana. Saat ia menjadi pemimpin gubernur, ia juga sangat disukai oleh masyarakat. Hal itu semua tak lepas dari pola asuh Soekarno M Noer yang selalu keras menanamkan nilai-nilai moral dan prinsip hidup baginya. 

Brouwer menjelaskan lewat teori Freud mengenai hubungan antara anak laki-laki dengan ayahnya. Kata Freud: “Antara anak laki-laki dan ayahnya terdapat suatu permusuhan yang harus diatasi kalau anak mau berkembang dengan baik.” Permusuhan ini terjadi karena persaingan atraksi afektif antara anak laki-laki dengan ibu dan ayah dengan ibu. Anak cinta kepada ibu dan benci kepada ayahnya yang cenderung menimbulkan konflik. Namun, anak biasanya takut dikebiri oleh ayahnya, mungkin karena ayah harus mempertahankan gengsinya sebagai instansi kekuasaan tertinggi dibanding ibu. Ketakutan itu dapat diatasi setelah anak dapat mengidentifikasikan diri pada ayahnya, agar rasa takut itu hilang dan berkembang menjadi sosok laki-laki sejati pada diri anak. Peristiwa itu banyak terjadi pada masyarakat yang masih menganut sistem patriarkal, ayah menjadi dewa yang maha kuasa.

Peran ayah bagi anak sangat dibutuhkan ketika anak menentang kekuasaan ayah dan mencari jalannya sendiri untuk menguji kekuatannya atau kalau ayah sudah meninggal dunia atau tak mampu mempertahankan kekuasaannya. Hal itu sangat berpengaruh pada perkembangan anak. Anak yang kehilangan ayah akan berkembang dalam keadaan yang kurang aman dan tidak jelas. Anak terlihat mampu berdiri sendiri, tetapi saat menghadapi kesulitan jiwa anak akan rapuh. Anak yatim-piatu sering batinnya rapuh dan cenderung penakut, meskipun di luarnya mereka terlihat kuat dan mampu dalam menghadapi kesulitan hidup. 

Sikap dan pribadi ayah juga dapat mempengaruhi pribadi sang anak. Seorang ayah yang pengecut atau plin plan akan menimbulkan anak laki-lakinya kurang jantan dan anak perempuannya menjadi kurang kewanitaannya. Bagi anak laki-laki pada usia 6-12 tahun, ayah akan menjadi sosok teman atau sahabat yang menemaninya piknik atau bermain agar sifat dan kebiasaanya tak mencerminkan perempuan yang kutu buku, menyendiri, dan kewanitaan. Lalu, pada usia remaja, anak laki-laki akan membutuhkan sosok ayah sebagai penasihat dalam hidup untuk mencari jati dirinya. Bagi anak perempuan, sosok ayah sangat dibutuhkan pada usia 2-5 tahun untuk mengembangkan kewanitaannya. Pada usia remaja kehilangan sosok ayah pada anak perempuan akan lebih terasa karena anak perempuan lebih dekat kepada ayah dibanding ibu. Ayah menjadi jembatan di antara jurang kedekatan anak perempuan dengan ibunya. 

Kita kembali diingatkan oleh lagu “Ayah” dari Ifan Seventeen: Engkaulah nafasku/ yang menjaga di dalam hidupku/ kau ajarkan aku menjadi yang terbaik// kau tak pernah Lelah/ sebagai penopang dalam hidupku/ kau berikan aku semua yang terindah// aku hanya memanggilmu ayah/ di saat ku kehilangan arah/ aku hanya memngingatmu ayah/ jika aku telah jauh darimu.


Dina Aulia, mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta