Rantai Penanda Harmoni Alam

KEBANYAKAN kita makan nasi sebagai sumber energi untuk beraktivitas. Bagaimana perjalanan nasi itu sampai ke piringmu? Tentu ibu menanak beras yang dibeli di pasar. Penjual di pasar membelinya dari petani melalui pedagang. Nah, petani bekerja keras menanam, menjaga, dan memanen padi.

Selama petani menjaga tanaman padi bertumbuh tinggi, ada saja hama yang mengganggu. Salah satunya tikus. Untuk membasmi tikus, petani punya pilihan yaitu menggunakan racun buatan atau pemangsa alami. Dulu sawah adalah juga rumah bagi ular. Ular memangsa tikus sebagai makanannya. Dengan begitu tanaman padi dapat terus tumbuh hingga siap dipanen.

Siapa makan apa

Setiap makhluk hidup perlu makan. Makanan yang masuk ke dalam tubuh diolah menjadi tenaga. Tanpa tenaga, kita tak bisa mengerjakan apa-apa. Ingatkah kamu saat sakit dan tidak berselera makan? Badanmu lemah, bermain saja tidak sanggup.

Di alam, banyak hewan seperti harimau, hiu, dan elang, mendapatkan energinya dengan memangsa hewan lain. Ada juga hewan yang makan tumbuh-tumbuhan saja, seperti sapi, duyung, dan kakaktua. Adakah hewan yang bukan cuma makan tumbuhan, tapi juga hewan lain? Ada, misalnya babi, lumba-lumba, dan kasuari.

Kalau kita lihat di sawah, tikus mendapatkan energinya dari makan daun padi, lalu ular mendapatkan energinya dari tikus yang dimangsanya, dan elang mendapatkan energinya dengan makan ular tangkapannya. Secara sederhana kita bisa melihat ada aliran energi dari daun hingga elang. Aliran energi melalui proses makan dan dimakan ini disebut rantai makanan atau jaring-jaring makanan.

Rantai makanan berlangsung bukan hanya di sawah, tapi di semua tempat, seperti laut, danau, hutan, rawa-rawa, bahkan di sekitar rumahmu! Coba perhatikan hewan-hewan di dekatmu: jentik-jentik, nyamuk, lalat, laba-laba, cacing, ikan cupang, cecak, tokek, katak, burung, kucing, anjing, dan sebagainya. Bisakah kamu menemukan rantai makanan di antara hewan-hewan ini?

Ketika katak lenyap

Jumlah masing-masing jenis hewan dan tumbuhan mesti seimbang. Jika salah satu jenis kurang atau kebanyakan, maka alam akan terganggu. Contohnya ketika hama tikus menyerbu padi di sawah. Lalu, apakah banyaknya ular di pemukiman juga akibat dari ketidakseimbangan ini?

Kalau petani gagal panen padi, kita memang tidak sampai kelaparan, karena ada pilihan lain seperti jagung, gandum, dan sebagainya. Tentu saja petani padi yang rugi. Bagaimanapun juga, serbuan tikus itu karena mungkin jumlah pemangsa alaminya terlalu sedikit. Banyak orang memburu ular untuk dijadikan peliharaan atau obat.

Berkurangnya jumlah satu spesies adalah bencana. Apalagi jika sampai punah! Adakah? Ya, ada. Manusia bukan satu-satunya penyebab langsung hilangnya satu spesies. Perubahan alami di alam juga bisa jadi penyebab kepunahan. Menurut biolog, kita sudah kehilangan 90 spesies katak dan bangkong akibat jamur.

Di sini pun ada hewan-hewan yang sedang terancam punah. Ini biasanya karena kita gusur rumah mereka untuk dijadikan perkebunan atau pemukiman. Bisa juga kita tangkapi mereka untuk dijadikan makanan atau peliharaan. Beberapa hewan tersebut adalah elang jawa, badak jawa, orangutan sumatra, harimau sumatra, dan penyu laut.

Mungkin manusia tidak langsung merasakan akibat dari satu spesies yang terancam punah. Namun, rantai makanan yang terganggu di suatu tempat, pada saatnya nanti akan mempengaruhi juga keseimbangan di tempat lain.

Sebelum terlambat, ayo kita menahan diri untuk tidak serakah menggunakan sumber daya alam. Manusia hidup berdampingan dengan makhluk lain, yang sama-sama membutuhkan tempat dan makanan sebagai sumber energi. Setiap jenis tumbuhan dan hewan merupakan sumber energi bagi yang lain. Oleh karena itu kita harus menghargai setiap kehidupan.


Dian Vita Ellyati, penyuka sains

Catatan: Naskah pernah dimuat di majalah “Utusan” edisi April 2020. Untuk Suningsih.net, naskah telah diedit seperlunya.

Hujan

Raining in the rain scene illustration

Hujan turun di mana-mana,

Airnya jatuh di tanah dan rumah,

Air hujan jatuh di payung,

Dan di kebun-kebun di gunung.


Diterjemahkan oleh Dian Vita Ellyati, dari judul asli “Rain” diambil dari buku kumpulan puisi, A Child’s Garden of Verses, oleh Robert Louis Stevenson, diterbitkan pertama kali tahun 1885.

Pasar Malam Berkitab

Bandung Mawardi

DI kampung-kampung, lama tiada pasar malam. Kampung-kampung tetap kebagian malam tapi keramaian itu dirindukan saja. Sekian permainan dan orang-orang berjualan makanan di satu tempat dalam terang dan beragam musik dinantikan saja tahun-tahun mendatang. Dunia belum baik-baik saja. Pasar malam masih cerita di kepala, belum memicu kedatangan orang-orang: berkerumun.

Kampung-kampung mau ramai memang membutuhkan pasar malam. Sejak puluhan atau seabad silam, pasar malam memberi hiburan-hiburan bagi keluarga. Pasar saat langit tanpa matahari meringis. Orang-orang mengira tak kepanasan. Di pasar malam, mereka makin tertarik dengan lampu-lampu. Konon, terang itu menjadikan pasar malam dinantikan di kampung dan kota.

Keluarga meninggalkan rumah membawa duit. Di pasar malam, duit digunakan membeli tiket permainan dan jajan. Kesadaran menikmati pasar malam mengartikan uang tergantikan tawa, kenikmatan, kebersamaan, dan kenangan. Di situ, orang-orang berjalan sambil tarik-ulur keinginan. Seribu godaan di pasar malam. Bapak-ibu tak cermat bisa bangkrut. Anak-anak dibiarkan menginginkan segala pasti menjadi raja dan ratu semalaman. Pasar malam itu kesenangan-kesenangan, sebelum orang berhitung duit, dan lelah.

Pada abad XXI, pasar malam masih memikat orang-orang berkumpul dan merasa ramai. Kampung dan kota bosan bila sepi-sepi saja. Pasar malam berisik kadang membedakan dari keseharian repetitif. Pasar malam membuat boros tapi pemerolehan pengalaman diperlukan orang-orang. Kampung malam tak selalu gengsi atau kepicisan mencipta hiburan.

Pada masa 1950-an, terbit buku berjudul Terus dan Tjepat: Wanita di Kota. Buku digunakan dalam pemberantasan buta huruf. Cerita-cerita sederhana disampaikan untuk dipelajari bagi orang-orang mulai bisa membaca dan menulis. Buku diterbitkan JB Wolters, memuat sekian cerita dan gambar-gambar apik.

Di halaman 20-24, ada cerita berjudul “Pasar Malam”. Kita membaca untuk mengerti kegirangan orang-orang ke pasar malam berlatar “imajinasi” sosial dan kultural masa 1950-an. Dua keluarga pergi ke pasar malam naik mobil pinjaman kantor. Kegembiraan ingin diraih: “Dimuka pintu masuk kelapangan tempat mengadakan pasar malam itu bukan kepalang ramainja. Pada tempat masuk itu didirikan suatu pintu gerbang jang besar. Pintu gerbang itu diterangi oleh berbagai-bagai lampu jang berwarna dan dihiasi dengan daun-daunan, bunga-bungaan dan bendera-bendera. Semuanja sangat menggembirakan hati.” Makna terpenting pasar malam adalah kegembiraan!

Gambaran pasar malam, tak jauh berbeda dengan masa sekarang: “Jang menjenangkan hari Aisah pada pasar malam ialah aneka ragamnja. Ada petak-petak tempat mengadakan seteleng. Petak-petak lain memberikan kesempatan untuk bersuka ria dan achirnja ada pula petak-petak tempat makan dan minum enak-enak.” Petak-petak meminta duit. Pengunjung harus berpikir serius untuk memberikan duit atau sabar dengan melihat saja.

Buku itu dimaksudkan mendukung pemberantasan buta huruf di seantero Indonesia. Cerita mengenai pasar malam mengikutkan perdagangan buku. Lumrah dan berpengaruh bagi pembaca agar suka buku: “Petak jang berikut menundjukkan beratus-ratus kitab jang berisi tjeritera dan gambar-gambar jang bagus. Ingin benarlah Aisah dan tetangganja melihatnja dengan djelas-djelas. Kitab-kitab itu boleh dipegang untuk melihat-lihatnja. Harganja tertulis pada tiap-tiap kitab. Buku-buku tidak mahal harganja. Aisah dan tetangganja membeli beberapa buah kitab jang bagus.” Kita memiliki ingatan kecil bahwa berkunjung ke pasar malam menemui kitab-kitab. 

Cerita sederhana dari masa lalu. Kini, kita merindu ada pasar malam lagi di kampung dan kota. Permainan dan makanan pasti ada. Kita mustahil menemukan ada pedagang buku atau kitab di pasar malam. Zaman ingin ramai dan berkerumun belum memerlukan buku-buku. Duit mendingan untuk permainan-permainan, tak lupa digunakan untuk makanan dan minuman. Duit pun digunakan membeli busana, benda kerajinan, mainan, atau perhiasan di pasar malam. Pasar malam berduit, tak lagi berkitab. Begitu.  


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Penambal: Ban dan Nasib

Anggrahenny Putri

DARI waktu ke waktu, kaki-kaki bergerak makin cepat. Lajunya tak lagi bertenaga nasi atau ketela hangat. Kecepatannya berasal kerukan dari dalam Bumi yang diolah hingga ternamai bensin. Dahulu, kaki bertelanjang hingga bersandal karet. Kini, kaki berbentuk roda dan masih berbahan karet. Sebagian besar kaki berkaret hitam itu mendapatkan tempat pada jalan-jalan mulus beraspal. Kaki yang lembut justru berjalan pada tanah yang berbatu. Sungguh ketahanan kulit manusia lebih kuat dibandingkan karet-karet bundar itu. Roda menggelinding bergerak dan kaki melangkah serta berlari dalam keseharian bersama-sama. Roda adalah kaki pada masa kini. 

Jalan beraspal itu nyatanya tak mulus dan tak selembut bayangan. Jalanan itulah yang layak disandingkan dengan peperangan. Manusia yang menunggangi roda-roda karet melesat kencang dan lamban pada permukaannya. Mengeluarkan asap polutan menyesakkan nafas. Mengabukan langit biru, bahkan belalang dan kupu-kupu enggan berada di sekitarnya. Burung-burung sesekali memang terbang, tapi tinggi: ketakutan mendengar cuitan melengking berasal dari ketidaksabaran jalanan. Bising menulikan telinga dan hati. 

Roda si cepat mirip mengamuk, ugal-ugalan. Hidupnya dilajukan bak kesurupan setiap hari, tak sabaran. Bersaing sampai tempat tujuan. Menyalip hingga menikung halangan di muka. Si lamban, beda cerita. Ia ingin bercepat pula tetapi rapatnya penunggang roda lain tak memberinya kesempat melesat secepat angin, akibatnya kesabaran yang melesat jauh. Jauh, hingga tertinggal umpatan dan kemarahan saja yang tersisa di tubuh. Burung makin enggan mendekat. Begitu pula kehidupan lain terkecuali pejuang kacang, kuaci, dan permen penikmat kemacetan jalanan. Petarung-petarung perang lengkap dengan penontonnya. 

Muncul satu sosok sial dalam pertempuran. Menuntun rodanya dengan kakinya sendiri. Rodanya kempes, sebelum sampai ke tujuan. Tengak-tengok pinggiran jalan di depan. Barangkali ada seorang yang dapat mengembungkan asanya akibat ban kempes itu. Wajah pinggiran jalan dengan roda-roda hitam tak berjalan malah menggantung sebagai hiasan. Sempurna! Hanya hiasan itulah yang terindah saat roda tunggangannya kempes, meleyot, dan mengkhawatirkan jika ternaiki. 

Tertulis besar-besar dalam huruf kapital seluruhnya, menggunakan cat berwarna putih. Selalu berwarna putih! Warna itulah yang paling pantas bersanding dengan roda melingkar berwarna hitam, agar tulisan terbaca dengan saksama: “TAMBAL BAN”. Ban berhias tulisan tak cukup, tumpukan roda-roda lain yang menjadi hasil keberhasilannya, merupakan sebuah bukti ketangkasan seorang pengusaha tambal ban. Pengusaha yang selalu berusaha menambal hati para pelanggannya yang dirundung kecamuk amarah akibat baut atau paku yang tak sengaja terinjak oleh rodanya. Melegakan hati yang telah terlambat datang.

“Yesus naik ojek melintasi jalanan lengang di bawah rincik hujan, membawa lima roti dan dua ikan, mau mengunjungi teman-Nya, seorang tukang tambal ban yang sudah lama tak bisa menambal nasib keluarganya karena pandemi virus corona”, begitu penggalan awal puisi Joko Pinurbo yang berhasil menyayat cita. Puisi mendalam yang berjudul Yesus Naik Ojek, menceritakan perjalanan Yesus mengunjungi kawannya tukang tambal ban. Si penambal kesedihan manusia lain ternyata tak mampu menambal kesedihannya sendiri. Bantuan makan masuk dalam rumahnya saat ia  sakit. Sakit tak hanya di dalam tubuhnya tapi dalam saku keuangan keluarganya pula. 

Si penambal kesedihan manusia lain ternyata tak mampu menambal kesedihannya sendiri. Bantuan makan masuk dalam rumahnya saat ia sakit. Sakit tak hanya dalam tubuhnya tapi dalam saku keuangan keluarganya pula.

Menjadi tukang tambal memang tak seberapa upahnya. Untuk berfoto dan kemudian diunggah di media sosial saja ia tak mampu. Tangan bersimbah oli bekas roda rantai kendaraan. Baju seadanya, bernoda tanah dan cairan bermotor. Berswa foto tidak memungkinkan, rasanya tak pantas. Tetapi, bukan dia tak pernah termuat dalam media sosial seperti Facebook dan Instagram. Tentu saja ia pernah tapi ceritanya bukan tentang dirinya. Cerita foto yang termunculkan sebagian wajah dan lengkungan punggung bungkuknya kala menambal ban motor pelanggannya yang bernasib sial di jalanan. Ya, bukan kisah kesialan hidupnya tetapi kesialan hidup orang lain. Ia hanyalah potret yang menumpang tenar pada sosial media seseorang. Berisi keluhan pelanggannya hendak dikasiani sekawan media sosialnya. Padahal hidupnya telah berat benar, tanggungan keluhan pelanggan bukan kali pertama untuknya. Pekerjaannya memang menambal ban. Nyata baginya  juga menanggung kekesalan orang lain.

Ban bocor terkena paku. Tak habis pikir paku bisa tiba di jalanan dengan selamat. Meletakkan tugas takdirnya sebagai pembocor roda yang ditunggangi manusia. Menggiring pasien-pasien yang bocor bannya pada sang dokter tambal ban. Bersiap ia dengan pakaian lusuh dan celana kolor pendeknya mempersiapkan alat-alat tak steril seperti cukit dan kunci pasnya untuk membedah roda bocor sebelum benar-benar kehabisan udara. Pentil ban diposisikan pada persis depan tangannya agar tangannya tak perlu kerepotan mengendalikan pentil dan jeruji roda. Melonggarkan baut yang membuat pentil menempel pada ban. Kemudian cukit beraksi, berusaha mengungkit ban luar agar ban dalam yang lebih tipis itu dapat diperiksanya dengan hikmat. Masih menyangkut ban dalam pada jeruji roda, sang dokter mendonorkan udara dari tabung udara berwarna oranye. Secukupnya saja, sampai menggembung seperlunya. 

Setelahnya adalah waktunya pemeriksaan yang lebih mendalam, dengan bantuan seember air keruh ia memancing buih-buih di bagian mana yang akan keluar dari ban yang sebelumnya kempes itu. Menyenangkan bertemu biang keladi kebocoran ban, dokter pun segera menandai lubang akibat tancapan paku. Memeriksa mungkin tak hanya satu penyakit yang menancap. Operasi tambal ban ini pada satu langkah yang paling penting yaitu menyatukan karet tambalan dengan ban yang bocor. Perlu kesabaran untuk mengerik, menempelkan, mengukur panas denga uap air yang sengaja dicipratkan pada lempengan alat press yang menekan agar kedua karet ini bersatu dan menjadi ban yang langgeng, tak bocor lagi. Operasi kecil dokter tambal ban telah selesai dan berhasil.

Proses pembedahan dan operasi ban lamanya hanya dua puluh menit. Bagi pasien yang sedang terburu-buru, ini bukan main lamanya. Sudah dipastikan terlambat. Mengapa harus resah? Begitu pikir sang dokter tambal ban. Memburu-burunya untuk bergegas tak berguna karena spirtus dan api harus benar melumerkan karet dengan baik agar tak “ngelotok” tambalannya. Agar pasien juga selamat sampai tujuan. Kesialan berguru pada kesialan yang telah tinggi tingkatnya. Kesialan pemilik ban bocor dan kesialan tukang tambal ban yang sudah legowo pada nasibnya. Tak perlu ditambah hidupnya karena bocor hidupnya sudah tak mampu ditambal tapi digantikan dengan ban baru. Ilmu sang tukang tambal ban bukan lagi menerima ban bocor tetapi juga menerima nasib takdir hidupnya sebagai penambal ban yang tak mampu menambal nasibnya.

Penerimaan didahului oleh proses penolakan dan marah. Keikhlasan perlu waktu. Seiring waktu yang terus terkikir seperti saat tukang ban mengasarkan ban. Karet ban tambahan menempel pada ban, yang juga terbuat dari karet, dengan tempaan besi panas. Bersatunya ban pada karet ban tambahan adalah contoh penerimaan. Yang rusak bisa diperbaiki dengan tempaan siksaan yang tak tertanggungkan bagi hidup, dengan sedikit bantuan. Yang rusak bisa jadi baik karena bantuan sehingga dapat melanjutkan menuju tujuan hidup yang dicita-citakan. Itulah jasa tukang tambal ban yang menawarkan bantuan menambal yang bocor. Bantuan tulus di tengah kesusahan nasibnya.


Anggrahenny Putri, penulis tinggal di Semarang

Memuliakan Tumbuhan

Yulia Loekito

Kegiatan meramban membuat kita lebih peduli dengan lingkungan sekitar. Kita dapat mengetahui bahwa di antara semak-semak atau rerumputan yang biasanya kita abaikan, ternyata terdapat tumbuhan yang dapat dimakan dan bermanfaat. Dengan demikian, kita tergerak untuk menjaga lingkungan sekitar untuk tetap asri, bersih, dan tidak tercemar sehingga tumbuhan tersebut bisa tetap dikonsumsi.”  (Thobib Hasan Al Yamini dan Dyah Kartikasari, Panduan Meramban: Mengenal 87 Jenis Tumbuhan Sekitar yang Dapat Dimakan, 2020)

OBROLAN di suatu sore beberapa waktu lalu itu memang direncanakan. Obrolan tentang tanduran dengan seorang teman. Ngalor ngidul, tercetus rasa ingin tahu tentang pohon-pohon berkayu keras. Jadilah kami ngobrol tentang pohon trembesi dan lamtara. Dugaan awal, pohon besar sekadar berfungsi sebagai peneduh. Oh! Tapi, kabar berikutnya membuatku yang kurang mengenal Bumi tempatku berpijak ini tercengang. Pohon-pohon raksasa itu adalah keluarga polong-polongan, bersepupu pula dengan tanaman kembang telang yang halus bersulur-sulur itu. Tutur temanku: “Tanaman itu sebenarnya punya kerajaan dan kehidupan. Kita saja yang belum memuliakan mereka.” Oh, Gusti! Mak jleb! 

Tanaman dan pepohonan dipahami penyedia makanan dan oksigen. Seringnya mereka dianggap sebagai pelengkap hidup manusia, juga hewan. Dalam buku Panduan Meramban seperti dikutip di atas, kita juga diingatkan untuk tergerak menjaga lingkungan agar tumbuhan bisa tetap dikonsumsi. Kita merawat masih berpamrih. Tak apalah, daripada tak peduli sama sekali, seolah sayur dan buah itu tumbuh dari meja-meja warung atau pasar. 

… Kita diingatkan untuk tergerak menjaga lingkungan agar tumbuhan bisa tetap dikonsumsi. Kita merawat masih berpamrih. Tak apalah, daripada tak peduli sama sekali, seolah sayur dan buah itu tumbuh dari meja-meja warung atau pasar.

Slamet Soeseno sudah sejak lama mengabarkan tentang flora dan fauna. Tulisan-tulisan rajin dimuat di Intisari. Dalam satu tulisan berjudul Lamtorogung sebagai Ipil-Ipil di Intisari edisi Oktober 1985, Slamet Soeseno mengingatkan kita pada botok. Sayur dimasak dengan parutan kelapa muda diberi bumbu bawang putih, kencur, ketumbar, lombok, daun jeruk: dibungkus daun pisang lalu dikukus. Hmm … sungguh menerbitkan air liur. Sayur bisa apa saja: kelor, kenikir, atau bluntas, biasanya dicampur teri dan petai cina atau mlandingan. Duh, sungguh lezat! Petai cina itu yang dibahas panjang lebar. 

Kutipan: “… tapi sesudah ada laporan Owen tahun 1958 bahwa para wanita tani Sumedang yang tiap hari melahap buah petai cina muda nyata sekali rontok rambutnya …. Atas dasar ini, kita kemudian dianjurkan untuk tidak mem-botok biji petai cina lagi, tapi mem-botok biji lamtorogung saja yang kadar mimosinnya lebih rendah, kira-kira 45% (hampir separuh) dari kadar mimosin petai cina.” Masyarakat pembaca kabar mungkin lalu tergerak memberitahu tetangga dan saudara supaya jangan terlalu sering masak petai cina. Bahkan di pedesaan, orang-orang sudah tidak terlalu terbiasa meramban, masyarakat adalah masyarakat tani. Bahan pangan diperoleh dari ladang, orang jadi tidak terlalu titen  lagi dengan sekitarnya dan jarang kabar diturunkan—dari generasi ke generasi atau dari mulut ke mulut—tentang tanaman mana yang aman dimakan, yang menyehatkan, yang bisa jadi obat, yang beracun, atau tanaman mana bersaudara dengan yang mana. Lamtorogung dan petai cina itu saudara dekat. Eh, mereka juga masih saudaranya trembesi yang teduh itu, lo! 

Kita masih berdecak kagum dan mengelus dada berkehendak insaf melalui obrolan dan tulisan-tulisan tentang tanaman. Kita belum lagi melangkah keluar rumah dan mengenali serta menyapa mereka satu per satu. Kita lanjutkan saja membaca buku Panduan Meramban. Buku dihiasi dengan foto masing-masing tanaman supaya kelak kalau kita mau mencoba meramban bisa menggunakannya sebagai panduan. Satu foto di halaman awal menarik perhatian, tanaman sangat mirip stoberi. Buah tampak menggantung berwarna merah, bentuk persis stroberi, tapi kita lihat di sana ada rambut-rambut halus. Daun-daunnya pun bergerigi mirip stroberi. Tanaman bernama ucen dengan sebutan lain: kecalingan, beberetan, atau jelanggara. Disebutkan kalau ucen biasanya ditemukan di daerah dataran yang agak tinggi dengan udara yang dingin dan sejuk. Umumnya tumbuh di tepian tebing atau di bawah naungan hutan pinus. 

Daun-daun muda tumbuhan ucen bisa dimasak jadi pecel. Buahnya bisa dimakan langsung, atau dalam buku disarankan untuk diolah menjadi selai. Olahan masakan dalam buku juga menarik perhatian. Cara memasak lokal dan pengaruh Barat disebutkan silih berganti, seperti: urap-urap, omelette, dan salad—oseng-oseng, botok, atau sayur lodeh tidak disebut. 

Abhinaya Ghina Jameela mungkin belum pernah melihat ucen. Naya lebih mengenal stroberi. Bisa jadi suka makan, yang jelas pernah menanamnya. Pengalaman menanam stroberi ditulis jadi salah satu puisi dalam buku kumpulan puisinya Resep Membuat Jagat Raya (2020). Puisi berjudul “Stroberi”: Siang hari aku menanam stroberi, menanam dengan bijinya yang kecil seperti semut/ Aku menyiram tanaman itu sambil bernyanyi/ 10 hari, stroberiku sudah matang lalu aku memetik satu-persatu dari yang kecil ke yang besar./ Aku buang daunnya yang terlalu matang.” Puisi bernada suka cita, ada nyanyian juga di sana. Naya—masih anak-anak—menuangkan  keindahan dan kegembiraannya dengan tanaman dalam tulisan. Oh, senangnya! Barangkali dengan begitu tanaman sedikit demi sedikit dimuliakan.

Tanaman-tanaman itu memang suka memberi. Semakin kita petik daun atau buahnya, bahkan kita pangkas cabang-cabangnya lalu kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, ia akan memberi lebih banyak. Walau kita obrak-abrik tempat hidup mereka, mereka selalu punya cara untuk terus hidup. Hari ini kita punya sedikit kesadaran untuk merawat mereka dengan pamrih. Suatu saat kita mencoba berkenalan dan menyapa mereka, meramban atau sekedar mengagumi dan berterimakasih. Sedikit demi sedikit belajar memuliakan mereka, walau kadang dalam anggapan masyarakat petani, sebagian dari mereka adalah gulma merugikan. 

Yulia Loekito

Penulis tinggal di Jogjakarta

Bacalah! Nyaringlah!

Yunie Sutanto

Ketika anda membaca kepada anak, anda menuangkan ke dalam telinga anak (dan otaknya) semua suara, suku kata, akhiran dan campuran yang akan menjadi kata-kata yang suatu hari dia akan diminta baca dan pahami. Dan melalui cerita, anda  memasukkan ke dalam dirinya pengetahuan latar belakang yang dibutuhkan untuk memahami hal-hal yang tidak ada di lingkungannya-seperti perang, ikan paus, atau lokomotif. (Jim Trealease, The Read-Aloud Handbook, 2017)

BACKGROUND knowledge yang diterjemahkan pengetahuan latar adalah suatu pengetahuan yang termiliki hanya oleh mereka yang banyak membaca buku (di luar buku teks wajib), sering mengunjungi museum dan tempat bersejarah, sering main ke alam dan juga berkesempatan bepergian ke luar negeri. Ada pengetahuan latar yang diperoleh di luar jam sekolah yang dampaknya memperluas cakrawala berpikir. Sebab, belajar itu tak melulu terbatas di bangku sekolah. 

Belajar itu gaya hidup (seharusnya) yang dilakoni: kapan saja dan di mana saja. Pembelajaran di sekolah (sayangnya) hanya berisikan segala hal yang berurusan akademis, yakni pengetahuan dasar untuk kelulusan terkait kemampuan “calistung”. Sehingga untuk pengetahuan latar, anak-anak tak bisa berharap memperolehnya di jam sekolah. Bagi anak-anak dengan ekonomi yang terbatas, akses memperoleh pengetahuan latar lewat buku-bukulah yang paling terjangkau. 

Itulah sebabnya jika tujuan seseorang membaca hanya semata demi ujian kelulusan sekolah, betapa tidak nikmatnya kegiatan membaca itu! Tak heran, jika selepas lulus kuliah, orang-orang akan  berhenti membaca. Padahal, tugas  utama pendidikan adalah untuk menanamkan sebuah keinginan dan kegairahan belajar. Tugas pendidikan bukan untuk menghasilkan orang-orang bergelar melainkan menghasilkan orang-orang yang terus belajar. Saat kita semua tanpa terikat usia terus menjadi pembelajar mandiri, jadilah murid yang terus belajar dalam sekolah kehidupan. Hal ini termungkinan jika membaca itu menjadi gaya hidup. 

Tugas pendidikan bukan untuk menghasilkan orang-orang bergelar melainkan menghasilkan orang-orang yang terus belajar. Saat kita semua tanpa terikat usia terus menjadi pembelajar mandiri, jadilah murid yang terus belajar dalam sekolah kehidupan. Hal ini termungkinkan jika membaca itu menjadi gaya hidup.

Jauh sebelum ada aksara, cerita-cerita dituturkan dari mulut ke mulut. Tradisi mendongeng secara lisan bisa terjumpai di hampir semua budaya. Pendongeng menjadi salah satu profesi di zaman kuno. Raja-raja Eropa di Abad Pertengahan sering memanggil pendongeng ke istana untuk menghibur dengan kisah-kisah saga yang membuai imajinasi. Hingga teknologi mesin cetak hadir dan buku-buku pun bermunculan, yang memungkinkan kisah-kisah itu dicatat dan diabadikan dalam tulisan. Cerita-cerita kini tersimpan dalam bentuk tulisan, tak hanya lisan. Buku-buku menunggu dibacakan nyaring kepada telinga-telinga yang antusias mendengarkannya!

Tak semua orangtua kreatif merangkai kisah untuk mendongeng bagi buah hatinya. Tak semua orang berbakat menuturkan kisah secara lisan dengan penuh penghayatan dan intonasi yang pas, seperti layaknya pemain sandiwara radio. Bahkan, seorang dalang perlu didampingi pemusik Jawa dan seperangkat wayang dalam berkisah. Juga seorang ahli suara perut (ventriloquist) seperti Ria Enes perlu didampingi boneka saat ia berkisah. Namun kini dengan hadirnya buku-buku cerita, siapa pun bisa bercerita dengan hanya bermodalkan buku. Kata-kata yang tertulis di buku tinggal dibacakan dengan bersuara. Adakalanya buku juga disertai ilustrasi yang mendukung pembacaan. Buku-buku memungkinkan hal ini terjadi. Kita menyebut aktivitas ini membacakan nyaring. Tak perlu punya bakat khusus bersuara perut, pandai meramu cerita dan pandai mendalang.  Cukup bermodal hati yang bertekad kuat membacakan nyaring buku-buku saja. 

Indra pendengaran memang diciptakan Tuhan sebagai indra pertama yang terfungsikan pada janin dan juga merupakan indra terakhir yang berhenti berfungsi saat ajal menjemput. Mengutip Roosie Setiawan (2017), organ pendengaran terbentuk secara sempurna pada trimester ketiga dalam masa kehamilan. Oleh sebab itu, memperdengarkan suara kedua orangtua dan keluarga terdekat ketika ibu hamil sangatlah dianjurkan. Misalnya dengan cara membacakan nyaring buku/majalah, kitab suci atau bacaan lain. Tradisi membisikkin ayat-ayat suci saat bayi baru dilahirkan bisa dianggap sebagai awal dari membacakan nyaring literatur dari Kitab Suci. Ada pula keluarga yang sudah membiasakan membacakan nyaring Kitab Suci sejak dari kandungan. 

Alice Ozma dalam bukunya The Reading Promise menuliskan kenangannya membaca buku-buku bersama sang ayah. Jim Brozina, ayah Alice, berjanji akan membacakan nyaring kepada anaknya yang berusia 9 tahun setiap malam sebelum ia tidur. Alice sangat menantikan momen kebersamaan ini.Mereka  membuat kesepakatan bahwa sang ayah akan membacakan nyaring selama 1000 malam berturut-turut. Rupanya, mereka terus melakukan ritual ini selama 9 tahun, tepatnya 3218 malam, hingga Alice berusia 18 tahun! Saat di kelas 11 , tak heran jika Alice tercatat sebagai siswa dengan nilai PSAT tertinggi di kelasnya. Bayangkan betapa kayanya pengetahuan latar belakang dan kosa kata yang termiliki oleh Alice! Tanpa bimbel dan les pun Alice menjadi siswa unggul! 

Membacakan nyaring memang sudah ada dalam sejarah sejak lebih dari dua ribu tahun lalu. Dalam tradisi Ibrani, para ayah sebagai imam membacakan Taurat kepada anak-anaknya. Tradisi membacakan nyaring saat sesi makan di biara ordo Benediktus pun masih dipraktekkan hingga kini. Tradisi membacakan nyaring di pabrik-pabrik tembakau saat para pekerja melinting cerutu dilakukan di Kuba dan Amerika Serikat. Aktivitas yang bertujuan mengusir kemonotonan ini di Kuba disebut La Lectura. Saat pabik-pabrik di Amerika Serikat memilih menggantikan pembacaan nyaring dengan mendengarkan radio, tidaklah demikian di Kuba. Sampai saat ini tradisi ini tetap dilakukan di Kuba. Mengutip Jim Trelease (2017), si pembaca biasanya duduk di atas kursi tinggi atau podium di tengah ruangan dan membacakan buku dengan nyaring selama 4 jam pertama dari koran-koran lokal, novel berseri dan bahkan Shakespeare. 

Kebersamaan orangtua dan anak menjadi tantangan tersendiri di era disrupsi ini. Buku Jim Trealease seolah menjadi pengingat untuk membudayakan membacakan nyaring sejak dini sebagai kegiatan yang berpotensi mempererat keakraban orangtua dan anak. Tak usah bingung mencari topik diskusi untuk memasuki jiwa anak, lewat mendiskusikan buku yang dibaca bersama kesempatan ngobrol terbuka lebar! Anak-anak pun menjadi leluasa mengomentari dan menyatakan pendapat sebagai tanggapan atas kisah yang dibaca bersama. Tak habisnya potensi pertanyaan yang termunculkan dari benak anak-anak. 

Lewat kisah Yusuf di Kitab Suci contohnya: Mengapa saudara Yusuf iri padanya? Mengapa Yusuf memaafkan saudara-saudaranya yang menjualnya menjadi budak? Saat membaca kisah Theseus dalam gubahan Plutarch, terdengar celetukan penuh tanya: Aku heran mengapa Theseus yang sudah mati diterima sebagai pahlawan, tetapi saat masih hiduup ditolak mentah-mentah? Saat membaca perjumpaan Laura Ingalls dengan para Indian Amerka: Mengapa orang-orang Indian ini tidak marah ya, tempat tinggal mereka direbut para pendatang? Apa bedanya dengan kolonialisasi?  Saat membaca kisah perjuangan Amy Carmichael yang rela membaktikan dirinya bagi kaum papa di India Selatan, muncul pula pertanyaan: mengapa Ibu Amy yang sakit-sakitan malah memilih melayani orang lain? Berapa banyak diskusi dan curhat dari hati ke hati yang termungkinkan muncul dari pertanyaan-pertanyaan emas yang dilontarkan anak-anak di atas?  Rasanya tak ada batasnya!

Mengutip Sarah Mackenzie dalam The Read-Aloud Family:Reading is first and foremost for pleasure -for delight. We communicate what we believe about books by the reading atmosphere (and lack thereof) in our homes.” (Kegiatan membaca dilakukan adalah terutama demi kenikmatan membaca itu sendiri. Kita mengkomunikasikan keyakinan kita tentang pentingnya buku lewat atmosfer membaca yang ada (atau tidak ada) di rumah kita).  Mau anak gemar membaca? Sediakan medianya! Berikan fasilitasnya. Teknis membaca itu tak sepenting atmosfer membaca yang dihadirkan keluarga. Sekolah mungkin berfokus pada pentingnya mengenal huruf, bisa mengeja dan lancar membaca.

Namun setelah bisa membaca, apakah cukup berhenti di situ? Kemauan dan kegandrungan membaca yang lebih penting termiliki anak. Orangtua yang memberikan teladan suka membaca akan menularkan rasa cinta membaca pada anaknya. Sehingga anak-anak menjadi anak-anak yang mau terus membaca jauh setelah mereka lulus sekolah.  


Yunie Sutanto, penulis tinggal di Jakarta

Ruang Anak Bajang (4)

Jurnal tujuh-harian perjalanan Anak Bajang Mengayun Bulan oleh Sindhunata di harian KOMPAS

Tujuh-episode keempat:

Swandagni ngotot menolak anaknya yang raksasa, dan hanya mau menerima bayi yang berwujud manusia. Ia menganggap bayi buruk rupa itu adalah buah dari perbuatan nafsunya yang dirangsang oleh tindakan sang istri. Betapapun istrinya beralasan siapa tahu anak mereka yang rupawan justru yang terlahir dari nafsu, bukannya cinta. Ia menutup mata akan kenikmatan yang dirasakannya, dengan mengingkari buah kenikmatan itu, sekalipun istrinya mengingatkan bahwa sebagai manusia, tak mungkin mereka melepaskan nafsu dari cinta. Sokawati berangkat dari Jatisrana untuk membuang anaknya yang berupa raksasa atas perintah suaminya, namun tidak sebelum ia mengucap sumpah akan balasan yang bakal diterima Swandagni atas kekejamannya pada putra mereka itu. Sokawati meninggalkan putra kesayangannya di batas hutan Jatisrana dengan perasaan galau karena merasa di balik wujud raksasanya, sang putra menyimpan kebaikan manusiawi. Setelah susuan terakhir, ia menyiapkan alas tidur berupa dedaunan campaka untuk putranya. Ia rangkai campaka untuk dikenakan pada leher sang putra sebagai kenang-kenangan. Oleh kilatan cahaya, kalung campaka ini berubah menjadi butiran mutiara. Setibanya di pertapaan, Sokawati tak sanggup menghalau kesedihannya, hingga kepedihan ini mengantarkannya pada kehidupan selanjutnya.

Sokawati terjebak di pangrantunan (alam penantian), tak bisa langsung memasuki surga. Dengan restu dewa, ia dibolehkan turun ke dunia untuk menemui putra yang telah dibuangnya. Anaknya kini tinggal di hutan Jatirasa dan berkeluarga dengan binatang hutan. Kisah pun berlanjut seperti disampaikan di bagian awal, ketika raksasa bajang bertemu dengan seorang perempuan cantik yang memperkenalkan diri sebagai ibunya. Ibu dan anak itu pun memuaskan rindu. Sokawati tak henti meminta maaf pada anaknya atas perbuatannya yang memalukan. Raksasa bajang baru memahami makna kerinduan yang selama itu selalu menghantuinya. Setelah keduanya mandi di pancuran telaga Sulendra, yang mengingatkan Sokawati pada kenikmatannya mandi di pancuran Jatisrana saat melakoni mitoni, Sokawati menceritakan alasannya meninggalkan sang putra. Bagaimana Swandagni hanya mau mengakui anak mereka yang berwujud manusia, juga usahanya menghibur sang istri dengan mengingatkannya untuk merawat anak yang mereka pertahankan. Hingga Swandagni bermaksud memberi nama pada sang putra, yang hanya menimbulkan kegundahan Sokawati yang juga mau memberi nama pada putra yang lain yang berwujud raksasa dan telah mereka buang.

Tema: penolakan pada nasib buruk, pengingkaran buah kenikmatan, perasaan bersalah yang menggerogoti jiwa, kerinduan yang terbalas, apakah nafsu selamanya buruk?

Karakter: Begawan Swandagni, Dewi Sokawati, sepasang bayi kembar

Lokasi peristiwa: pertapaan Jatisrana, hutan Jatirasa, telaga Sulendra, pancuran di telaga

Kutipan terpilih:

“Begawan, engkau adalah manusia yang hanya mau merasakan nikmat, tapi tak mau menerima buah dari nikmat itu, setelah tahu buah itu tidaklah sebaik seperti kau harapkan. Kau laknatkan nikmat.” (Eps. 22)

Seperti halnya dulu dia tidak bisa menolak nafsu ketika memberinya gairah dan nikmat, sekarang pun dia tidak bisa menghindar ketika nafsu membakarnya dengan rasa benci dan marah. (Eps. 22)

“Hidup adalah hidup, betapapun tak berartinya hidup itu, seperti hidupku ini. Mungkin karena itu, aku yakin, anakku akan tetap hidup, karena yang kuberikan padanya adalah hidupku sendiri.” (Eps. 24)

“Alam tak pernah membuang, malah memelihara siapa yang disingkirkan oleh manusia yang kejam.” (Eps. 26)

“Apakah nafsu itu mesti jelek dan buruk, Anakku, jika dalam dirimu yang terlahir dari nafsuku itu tersimpan kecantikanku yang tak pernah aku punyai dalam kebaikan dan kesucianku?” (Eps. 27)

Melawan kesedihan itu sama saja dengan mengingkari dirinya sendiri. Kalau ia mau meniadakan kesedihan itu sekarang, ia juga harus meniadakan kebahagiaan yang pernah ia alami. (Eps. 28)

Amsal:

Kerinduan mereka berdua menjadi dua anak panah, yang satu dari kayu pohon nagasari, yang lain dari kayu pohon kaniri. Dua panah itu melesat tinggi. Dan angkasa penantian bertebaran dengan bunga-bunga mewangi. Dua anak panah itu beradu. Suaranya menggetarkan, dan cahaya pun berkilatan. (Eps. 26)

Glosari: (burung) engkuk, (burung) cataka, (burung) cikru, campakamala, pangrantunan, (tumbuhan) tarulata

Episode 22: Swandagni kukuh menolak salah seorang putra kembarnya yang berwujud raksasa. Bahkan, ia tuduh istrinya telah tunduk pada nafsu. Sebagai pendeta, ia merasa harusnya hanya melakukan perbuatan cinta, yang suci, bukan nafsu, yang penuh noda. Ia menyangkal argumen Sokawati bahwa selama masih beraga, mustahil mereka memisahkan nafsu dari cinta. Namun, ia juga tak bisa membantah bahwa putranya yang tampan mungkin juga terlahir dari nafsu. Ia ngotot anaknya yang jelek adalah buah perbuatan tercela, sehingga harus dibuang. Menahan marah dan kecewa, Sokawati mengucap sumpah suaminya kelak akan menuai perbuatannya.

Episode 23: Sokawati keluar dari Jatisrana sambil menggendong bayi raksasanya. Kesedihannya dikawani suara cucur. Wajah anaknya yang jelek datang dan menghilang, sebagaimana kuwung. Membayangkan anaknya yang segera ditinggalkannya seorang diri di hutan belantara segera akan menemui ajal, ia sekaligus juga merasakan kuatnya daya kehidupan. Ia menyusui anaknya pada saat-saat terakhir, dan merasa bulanlah yang menyusu padanya. Ini mengingatkannya akan kenikmatan saat ia bercinta dengan suaminya, juga kala ia mandi di pancuran bambu sambil mendekap buah kelapa bergambar Dewi Ratih.

Episode 24: Sokawati tak habis-habis menciumi putranya, yang lalu menangis bahagia. Tangis bahagia si bayi menggugah engkuk dari tidur sedihnya. Sokawati percaya air susunya memberi daya hidup. Semakin dalam hutan, Sokawati semakin pedih Sokawati, bagaikan cataka yang putus asa mengharap hujan dan cikru yang bersedih. Di batas Jatisrana, bersiap meninggalkan anaknya, Sokawati terkesiap melihat anaknya tiba-tiba berubah rupawan. Namun, ketika Sokawati menimangnya lagi, kembali anaknya sebagai raksasa. Sokawati tersadar, jelek atau tampan, anak itu tetap anaknya. Setelah anaknya terlelap dengan susuan terakhir, Sokawati menyiapkan alas tidur untuknya dari daun-daun campaka.

Episode 25: Sebagai kenang-kenangan, Sokawati merangkaikan bunga campaka sebagai kalung penghias leher anaknya. Oleh kilatan cahaya, kalung bunga itu menjadi butiran mutiara. Dengan itu Sokawati meninggalkan anaknya, di luar hutan Jatisrana, dan terus mendengar tangis anaknya dari jauh yang diantarkan jati dan cemara. Setibanya di pertapaan Jatisrana, hubungan suami istri itu menjadi dingin akibat kepedihan Sokawati. Swandagni didera perasaan bersalah telah membuat istrinya berduka, namun juga merasa benar telah membuang buah dosa. Sokawati lambat laun  melayu, dan berpulang dalam keadaan nelangsa.

Episode 26: Meskipun surga sudah di depan mata, namun Sokawati belum bisa memasukinya. Ia mesti menunggu di alam pangrantunan. Oleh kebaikan para dewa, ia diperbolehkan turun ke bumi, ke hutan Jatirasa, untuk menemui anaknya yang dibuangnya di hutan. Maka, tergelarlah peristiwa sebagaimana dikisahkan pada bagian awal. Ibu dan raksasa bajang saling memuaskan rindu. Sang ibu lega melihat kalung mutiara campaka masih ada. Ia memohon ampunan putranya. Sang putra menemukan makna kerinduan yang selama ini tak dipahaminya. Kutilang dan kepodang turut meramaikan suasana di tengah kegembiraan binatang hutan.

Episode 27: Sokawati dan anaknya mandi bersama di telaga Sulendra di hutan Jatirasa. Saat telanjang, Sokawati merasakan kejujuran dirinya sebagaimana alam telanjang dalam keindahannya. Raksasa bajang mengagumi keindahan ibunya. Sokawati mandi di pancuran yang mengingatkannya saat upacara mitoni di Jatisrana. Sambil mendekap anaknya ke dadanya, ia membayangkan apakah sang putralah yang mewujud dalam buah kelapa yang mendatangkan kenikmatan baginya saat itu? Ia menyadari pada diri anaknyalah tersimpan kecantikannya, sehingga ketika anaknya ia buang, kecantikannya pun hilang.

Episode 28: Semalaman Sokawati bercerita pada anaknya tentang derita batinnya setelah diminta sang suami untuk membuangnya ke hutan. Ia merasa sangat bersalah dan mempertanyakan untuk apa lagi hidup ketika anaknya mesti mati. Suaminya menghiburnya dan memintanya mempedulikan anaknya yang masih ada, yang tampan rupawan. Sokawati makin sedih karena suaminya masih saja pilih kasih, membuatnya teringat pada anaknya yang dibuang. Derita ini harus dilaluinya, setelah kenikmatan ia rasakan. Swandagni bermaksud memberi nama anaknya yang tampan, mendorong Sokawati melakukan yang sama pada anaknya yang berwujud raksasa.

Panggilan

Agita Y.

“MULAI sekarang, panggilan miss dan mister kita ganti dengan sebutan dalam bahasa Indonesia: pak dan bu,” demikian penjelasan kepala sekolah yang baru di sekolah tempat saya bekerja dulu.

Pada awalnya terasa sulit dan canggung karena sudah terbiasa anak-anak memanggil gurunya dengan miss atau mister tadi. Namun, kesepakatan baru ini telah kami bicarakan dan pertimbangkan masak-masak. Tujuannya lebih berbangga dengan bahasa Indonesia. Ternyata tidak butuh waktu lama untuk mengubah kebiasaan ini, apalagi kami saling mengingatkan. Meskipun saya sudah tak bekerja di tempat itu, sampai kini jika bertemu dengan murid baik secara langsung maupun lewat media sosial, saya tetap dipanggil “Bu”.

Apa salahnya memanggil dengan Pak atau Bu? Apa membuat kita lebih ndeso atau terkesan tua? Iya sih saya setuju yang kedua. Kadang kala merasa tidak cocok dengan panggilan “Bu” karena merasa bukan ibu-ibu, padahal anak sudah dua. Rasanya ingin dipanggil “Mbak” terus saja biar awet muda.

Lain tempat, lain panggilannya. Saya pernah merasa aneh dipanggil “Tante”. Kalau yang memanggil anak-anak, saya masih agak maklum. Tapi ini sesama ibu di komplek perumahan di desa tempat saya dulu mengontrak rumah. Mereka memanggil “Tante”. Aih, gatal kuping saya, saya bukan “tante-tante”! Sepertinya kalau dipanggil “Tante” itu terkesan wanita dewasa yang modern sekali. Padahal itu di desa lho bukan kota. Rasa-rasanya lebih cocok Mbak atau Mbakyu atau Ibu sajalah.

Panggilan berbeda lagi yaitu Jeng. Ha, ini saya juga masih merasa aneh sampai sekarang. Biasanya yang memanggil seperti itu adalah orang-orang yang lebih sepuh, ibu-ibu zaman dululah. Tidak ada yang salah sih dengan panggilan itu, wong artinya juga panggilan dalam bahasa Jawa untuk menyebut perempuan yang seusia atau lebih muda. Asal katanya, diajeng.

Tapi, saya lalu membayangkan sosok perempuan berkebaya, berkain dan bersanggul jika mendengar kata jeng dan diajengmlaku thimik-thimik dengan tutur kata halus, yang jelas sama sekali tidak menggambarkan wanita grusa-grusu seperti saya.

Lucu lagi panggilan “Kak”. Saya merasa terlalu Indonesia dan resmi mendengar panggilan ini. Biasanya dipakai sebagai sebutan dalam ritual jual-beli. Di toko-toko tertentu, ada standar penyebutan pengunjung dengan sebutan itu. Di jualan daring juga lazim penggunaan “Kak”. Sekarang, saya sudah agak terbiasa jika disebut “Kak”. Namun, di desa tempat tinggal saya sekarang, sesuai harapan saya,  orang-orang atau tetangga memanggil nama saya biasa, dengan tambahan “Bu” atau “Mbak”.


Agita Y., Ibu suka menulis, tinggal di Jogjakarta

Sejarah dan Berubah di Lidah

Yunie Sutanto

Asimilasi dan akulturasi panjang ini menghasilkan makanan-makanan unik yang tidak didapati di luar Indonesia. Tidak akan didapati di negeri asal para imigran-Tiongkok, tidak juga di negeri asal para penjajah-Belanda; menghasilkan kuliner yang sama sekali baru dan spesifik khas Nusantara. (Aji ‘Chen’ Bromokusumo, Peranakan Tionghoa dalam Kuliner Nusantara, 2013)

HUBUNGAN antara Tiongkok dan Nusantara, menurut Denys Lombard, sudah berlangsung sejak masa Dinasti Shang, 2000 SM. Pertukaran komoditas dalam perdagangan di jalur pelayaran serta berbagai upeti yang dikirim tercatat rapi dalam catatan-catatan sejarah. Ekspedisi pasukan Dinasti Yuan dengan upaya pembalasan atas dipermalukannya utusan Tiongkok oleh Kertanegara, Raja Singosari, bisa dibaca dalam buku WP Groeneveldt berjudul Nusantara dalam Catatan Tionghoa. Tertulis oleh Ike Mese, orang Uygur yang beberapa kali menjadi utusan Dinasti Yuan ke Nusantara runutan kejadian dalam kurun waktu 1260-1293. Banyak kapal utusan Yuan yang tertinggal saat mereka dikalahkan oleh Raden Wijaya. Banyak prajurit Yuan yang juga tertinggal dan menetap selamanya di Nusantara.

Foto: Yunie Sutanto

Pemandangan puluhan guci berisi makanan yang diawetkan, seperti telur asin, sayur asin dan tongcai menjadi perangkat lazim yang menemani para pendatang Tionghoa di Nusantara.  Di kapal jung mereka pun ada sudut tempat menanam sayuran segar dan membuat tauge. Mereka juga membawa peralatan membuat tahu. Biji kacang kedelai dalam jumlah banyak pun terbawa ke negeri yang kelak disinggahi di Lautan Selatan. Nan Yang, demikian salah satu sebutan Tiongkok di masa lalu bagi Kepulauan Nusantara. Bekal di perjalanan ini untuk memastikan perut tetap terisi dengan aneka olahan rasa yang sesuai lidah. Makanan yang diawetkan dan tahan lamalah yang menjadi pilihan. Tubuh boleh melanglang samudera, namun lidah tetap akan mendamba masakan kampung halaman. Bukankah masakan ibu memang selalu di hati?

Makanan yang diawetkan dan tahan lamalah yang menjadi pilihan. Tubuh boleh melanglang samudera, namun lidah tetap akan mendamba masakan kampung halaman. Bukankah masakan ibu memang selalu di hati?

Chinese food di negeri asalnya itu khas dengan bumbunya yang sederhana. Cita rasa asli bahan-bahan masakan tersebut masih terasa. Jika memasak sawi, masih terasa rasa sawinya. Pun memasak ikan masih terasa ikannya. Bumbu lima rempah ngohiong, angciu, jahe dan bawang putih yang umum digunakan, bertujuan semata menghilangkan bau amis dan juga menghangatkan tubuh. Berbeda nian dengan masakan peranakan Tionghoa yang bertabur rempah setempat nan rumit. Machtig, sebuah kata Belanda yang menggambarkan cita rasa kuliner peranakan yang begitu kaya rasa, akibat paduan berbagai bumbu dan rempah. Ditambah kuah santan yang semakin meriuhkan kegurihan rasa di lidah penikmatnya! Aji Chen Bromokusumo (2013) mengungkapan, komunikasi yang paling gampang adalah komunikasi dengan universal language, yaitu bahasa makanan atau urusan mulut dan perut. 

Demikianlah saat hendak memasak hidangan seperti di negeri asal, namun para pendatang ini terkendala banyaknya bahan tak terjumpai di Nusantara. Mungkin juga persediaan kecap mereka sudah habis. Terpaksalah kreativitas dikerahkan untuk memproduksi dengan bahan lokal yang tersedia di Nusantara. Inovasi termungkinkan terjadi. Bahasa makanan berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Di mana ada tekad berkarya, di situ terbuka jalan kreatif menghasilkan pelbagai kecap khas nusantara dengan keunikan masing-masing.

Kecap manis menjadi kekhasan kuliner peranakan Nusantara, terutama Jawa. Kecap yang disebut Jiang You dalam bahasa Mandarin, sejatinya merupakan alternatif murah pengganti garam dalam bumbu masak khas Tiongkok. Cara membuatnya lewat proses fermentasi kedelai yang akan memberikan cita rasa asin dan gurih. Seiring berkembangnya masa, lidah para pendatang ini pun sudah menyesuaikan dengan lidah lokal. Pernikahan campur antara pendatang tionghoa dan warga setempat menjadi marak. Rupanya lidah para pendatang pun ikut kawin dengan lidah lokal. Terciptalah kecap manis. Kecap benteng dan kecap anggur punya dua merek kecap manis yang menjadi andalan memasak. 

Menu-menu peranakan pun bermunculan dalam keluarga para babah. Sang nyonyah terpastikan memegang andil mengolah aneka hidangan peranakan yang unik nan cantik macam kue-kue nyonyah: aneka talam, pulut, kue ku, bakpao, bakpia, dodol, dan sebagainya. Tak lupa hidangan utama yang juga lezat berpadu rasa di lidah. Bayangkan makan semur, bakmoy, sosi babi, sate, tahu telor dan soto tanpa kecap manis. Pastilah ada yang kurang di lidah!

Ilat Jowo yang penyuka manis sudah mengambil alih preferensi rasa para peranakan Tionghoa. Hingga kini tak terbilang banyaknya perusahaan kecap lokal di berbagai pelosok Indonesia. Setiap daerah memiliki kecap khasnya masing-masing. Begitu kayanya varian kecap membuktikan begitu besarnya dampak yang diberikan oleh pendatang Tionghoa dalam perkembangan kuliner Indonesia. Bahkan ada sebuah komunitas para kolektor kecap Nusantara yang tak habis-habisnya membahas aneka kecap di seantero sudut Indonesia. Beda hidangan beda pula kecapnya!

Dari sekian banyak hidangan peranakan Nusantara, lontong Cap Gomeh salah satu yang paling dikenal luas. Lontong Cap Go Meh bolehlah unjuk gigi dan unjuk rasa bersanding dengan saudara kembarnya, hidangan Ketupat Lebaran! Tingkat kemiripan dua hidangan ini memang  tak terelakkan. Konon menurut tradisi, Sunan Kalijaga (Gan Si Cang) lah yang memperkenalkan Ketupat pada masyarakat Jawa. Perayaan Idul Fitri di Nusantara tak akan lengkap tanpa hidangan Ketupat tersaji. Saling hantar ketupat pun menjadi sarana untuk mempererat tali silahturahmi. Budaya menikmati lontong Cap Go Meh di puncak perayaan tahun baru imlek pun teramati hanya ada di Nusantara. Di negeri Tiongkok menu ini bahkan tak dikenal. Cap Go Meh yang secara harafiah berarti malam ke lima belas, memang puncak perayaan Imlek. Lontong Cap Gomeh formasi lengkap tersaji: terdiri dari lontong, ayam opor, ayam abing, sambal goreng ati ampela, lodeh, dan telur pindang. Tak lupa taburan bawang goreng dan bubuk dokcangnya! 

Satu hal yang perlu diingat, bahwa masyarakat Peranakan Tionghoa Nusantara  bukanlah masyarakat yang homogen. Keragaman akan terbaca jika mengintip buku resep letje Go Pheek Too dalam Memoar Tentang Dapur China Peranakan Jawa Timur susunan Paul Freedman dan Kho Siu Ling. Ada Tionghoa peranakan yang berkiblat ke dunia Barat, menghasilkan resep-resep yang berkiblat ke Belanda: galantin, lapis legit dan klappertart. Ada pula Tionghoa peranakan yang berkiblat ke Tiongkok. Kiblat rasanya pun ke arah Tiongkok: ayam ku lu yuk, bakmoy, lumpia, dan kuo tie. Ada pula yang berkiblat ke Nusantara dan terlahirlah menu seperti lontong Cap Go Meh, asinan, rujak petis dan aneka soto Nusantara. Aneka kiblat ini menghasilkan proses akulturasi dan asimilasi yang ragam pula. Proses kreatif termungkinkan wujud dalam bentuk hidangan baru yang memperkaya cita rasa kuliner Nusantara. Proses kreatif masyarakat peranakan pun semakin memperkaya teknik memasak masyarakat di Nusantara. 

Jika melihat turis peranakan pergi tur ke China, pasti mereka tak lupa sangu botol saus sambal dan kecap manis. Jangan heran. Lidah para peranakan memang sudah bukan lidah China. Perlukah kau tanya hatinya? Bagi yang masih bisa berbahasa Mandarin, logatnya pun khas Nusantara! Logat berbahasa mandarin mereka terasa kental dengan dialek bahasa daerah di Nusantara. Ada yang medok Jawa Mandarin-nya, ada pula yang kental logat Palembangan-nya. Bahkan sudah umum Tionghoa peranakan yang tak fasih lagi berbahasa Mandarin dan bahkan tak punya nama Mandarin! Peranakan Tionghoa di Nusantara memanglah sudah menjadi bagian dari Nusantara! 


Yunie Sutanto, penulis tinggal di Jakarta

Hujan: Nasi Krawu dan Mi Instan

Uun Nurcahyanti

GERIMIS menjadi awalan bagi para bocah untuk mengerti waktu. Terjadilah mandi dalam hujan! Tak ada anak yang rela sekadar menjadi penonton. Bocah girang dalam hujan. Sedangkan bagi orang tua, musim hujan adalah ajang siasat kreasi santapan.

Pada masa kecilku, keasyikan kami bermandi hujan dibarengi kerepotan ibu di pawon. Ibu akan sibuk menjerang air panas untuk persiapan mandi usai hujan-hujan. Selain itu, wedang jahe serai penghangat tubuh juga lekas dimasak. Harum gula jawa terasa nikmat bercampur bau tetesan hujan. Nasi beserta sayur sop kubis menjadi menu andalan. Lauk berupa tahu atau tempe goreng melengkapi sajian khas musim hujan. Sembari menunggu nasi masak, biasanya ibu akan menyuruh kami berhenti dan pulang. 

Air hangat sudah disiapkan di kamar mandi. Usai berpakaian, amben di dapur sudah dipenuhi sajian makanan. Ibu pasti menyuruh kami minum wedang jahe terlebih dahulu sebelum memulai ritual makan. Aku suka makan sambil duduk di dekat tungku yang masih menyala pelan. Hangat. Makanan dan minuman di sela rintik hujan juga serba hangat, membuat kami rindu kembali udan-udan esok hari.

Musim hujan adalah musim makan intip. Kerak nasi yang gosong menjadi andalan pawon ibuku di samping sop kubis. Bagian kerak nasi yang sering gosong saat proses pengaruan turut dimatangkan dalam kukusan. Setelah matang, nasi gosong atau intip ini dicampur dengan parutan kelapa yang masih ada kulit arinya lalu ditaburi garam. Mbah Arjo, rewang keluarga kami, menamakan nasi ini nasi krawu. Rasa gurih parutan kelapa bercampur hangus kerak nasi menghangatkan tubuh usai mandi hujan.

Mbah Arjo, rewang kelurga kami, menamakan nasi ini nasi krawu. Rasa gurih parutan kelapa bercampur hangus kerak nasi menghangatkan tuhub usai mandi hujan.

Pada masa kanakku, kukusan terbuat dari anyaman bambu berbentuk kerucut. Nasi ditanak dalam kuali tanah liat. Kuali dan tungku serta tanakan model ini tak lagi digunakan saat aku di sekolah dasar, awal masa 1980-an. Tungku berganti kompor minyak tanah. Kuali berganti dandang, kukusan yang terbuat dari aluminium. Nasi krawu yang menjadi favorit kala musim hujan turut mengalami perubahan proses pembuatan. 

Kadang Mbah Arjo ngaru nasi di panci aluminium selain kebiasaan baru, yaitu ngliwet dengan menggunakan panci berbentuk cembung berbahan tembaga tebal.. Bila masak nasi liwet menggunakan kastrol, kerak nasi dibiarkan gosong agar bisa dibuat nasi krawu. Saat itu kami belum tahu cara memasak nasi liwet ala Sunda yang gurihnya sudah menyatu dalam nanakan nasi karena tambahan serai, daun salam, bawang putih, dan bawang merah.

Lidah di musim penghujan itu butuh rasa hangat dan gurih. Kebiasaan bersantap serba hangat di sela tenunan hujan berlanjut di kuah mi instan. Sayur sop, tahu tempe goreng, dan nasi hangat dianggap jadul. Terlalu merepotkan! Empat lima bungkus Supermi ditambah irisan sawi, bakso, dan telur, lalu dimakan dengan nasi hangat dianggap lebih praktis sebagai santapan kala hujan. Kuah mi instan, bahkan, menawarkan rasa gurih yang kuat dengan aneka rasa baru bagi lidah kami: ayam bawang, soto, kaldu sapi. 

Berbeda dengan masakan sop ibu yang rasanya selalu ajeg. Yang membedakan hanya variasi isian sayurnya: kubis, wortel, kentang, makaroni, buncis, daun bawang, dan seledri. Kadang bunga kol dan buncis menggantikan kubis.

Kebiasaan makan nasi krawu pelan-pelan hilang dari tradisi dapur rumahku. Semakin kami tumbuh besar, mandi hujan tak lagi diizinkan dengan mudah. Kalimat terucap: Ojo udan-udan, mengko ndak masuk angin. Ucapan yang menghentikan keasyikan mandi hujan sekaligus mereduksi hidangan khas musim hujan. Dulu, hujan-hujan tak pernah dikaitkan dengan masuk angin atau sakit apapun. Waktu mengubah paradigma orangtua berkenaan hujan dan tubuh. Hujan-hujan sebagai rezeki bocah dengan makan nasi krawu serta wedang jahe sebagai penutupnya digulung kalimat cemas.

Waktu mengubah paradigma orangtua berkenaan hujan dan tubuh. Hujan-hujan sebagai rezeki bocah dengan makan nasi krawu serta wedang jahe sebagai penutupnya digulung kalimat cemas.

Nasib nasi krawu yang tak lagi menjadi pilihan semakin terpuruk semenjak adanya magic jar, lalu termutakhirkan dengan magic com. Panci masak listrik tak meninggalkan kerak gosong. Bila terlalu lama berada dalam magic com, nasi menjadi kering seperti usai dijemur di bawah terik sinar matahari musim panas, namun tidak gosong. Nasi garing ini lebih cocok dibuat kerupuk dengan cara digoreng lalu diberi bumbu. 

Mengingatkan kebiasaan lain ibu dan Mbah Arjo yang akan dengan senang hati mengeluarkan persediaan intip kering sebagai kudapan sore di musim hujan. Intip goreng ini disiram juruh manis-gurih yang terbuat dari gula jawa, sedikit garam dan bawang putih. Bau harum bawang putih bercampur gurih manis gula jawa membuat intip goreng tak tersisa. 

Lha, nasi kering hasil magic com tidak khas dan sedap sebagaimana intip dari kuali tanah liat ataupun panci aluminium. Teknologi pengolahan nasi menggenapi kecemasan masyarakat kota dalam menghapus jejak hujan di tubuh bocah beserta santapan khas  dapur rumahan. Musim hujan tak lagi keriangan bersantap kehangatan yang gurih di dapur keluarga. 


Uun Nurcahyanti, penulis tinggal di Pare, Kediri