Setelah (Salah) Tafsir

Bandung Mawardi

RENUNGAN bisa memicu ribut. Di Indonesia, renungan diumumkan di majalah itu masalah. Renungan dikutip dari Kahlil Gibran. Kutipan dimaksudkan majalah Tempo dan Matari Advertising mengajak para pembaca merenung mengenai orangtua dan anak. Ajakan ditampilkan di majalah Tempo, 3 Juni 1978. Sehalaman penuh, memuat foto ibu-anak dan larik-larik gubahan Kahlil Gibran (1883-1931). Para penikmat sastra sudah mengenali dan membaca buku-buku Kahlil Gibran dalam bahasa Inggris atau terjemahan bahasa Indonesia. Pujangga asal Lebanon bermukim di Amerika itu menggubah sastra terbaca di dunia dalam beragam bahasa. Ia pun melukis. Di Indonesia, Kahlil Gibran dikagumi dan ditiru. Pada masa 1990-an, jumlah pembaca terus meningkat untuk merenungkan masalah iman, asmara, politik, keluarga, alam, dan lain-lain.

“Dan seorang wanita yang mendekap anaknya berkata,” pembuka dalam renungan tersaji di Tempo. Pembuat ajakan renungan tak mengira bakal berurusan dengan aparat. Kutipan dianggap bertentangan dengan Pancasila atau kepribadian Indonesia. Kita simak gubahan Kahlil Gibran: “Puteramu bukanlah puteramu. Mereka adalah putera-puteri kehidupan yang mendambakan hidup mereka sendiri. Mereka datang melalui kamu tapi tidak dari kamu. Dan sungguh pun bersamamu mereka bukanlah milikmu.” Pihak aparat mengaku paham hukum menafsirkan kutipan dengan nalar-ideologis. Larik-larik itu tak cocok dengan seruan tema keluarga dari pemerintah. Mereka menginginkan pembentukan keluarga mengamalkan nilai-nilai Pancasila, menunjang pembangunan nasional. Sekian hari setelah pemuatan renungan, publik mendapat debat seru dari pelbagai pihak. Kita mengingat bila Kahlil Gibran pernah bermasalah di Indonesia gara-gara salah (arah) tafsir.  


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Waras

Bandung Mawardi

HARI-HARI sering hujan. Raga-raga mudah berubah. Pagi kadang hujan. Sore dan malam sering hujan. Raga berperistiwa di luar rumah berurusan hujan. Raga memang dibungkus busana dan jas hujan. Raga masih terkena basah. Dingin pun terasa. Raga bisa sakit.

Sekian hari lalu, melihat raga-raga sakit. Sekian orang demam. Tubuh-tubuh itu merasakan tak enak. Demam menghentikan kebiasaan keseharian. Raga tak mampu menjawab hari-hari berhujan. Obat masuk tubuh. Doa-doa diucapkan demi sembuh. Raga di ranjang. Raga selalu berada di rumah, terlindung dari hujan dan dingin seliweran di luar.

Suara-suara terdengar. Sekian orang batu-batuk. Mulut-mulut itu mengabarkan derita ditanggungkan. Batuk bukan lagu merdu. Batuk-batuk diproduksi sekian orang sulit menjadi orkestra. Suara-suara seperti siksa bila malam dan dini hari. Batuk itu membuat raga kelelahan. Ada kegagalan atau kesalahan menjawab musim dengan makanan atau minuman telanjur dikonsumsi.

Suara pelengkap adalah pilek. Hidung-hidung memberi suara. Telinga kita tak ingin mendengar orang pilek. Penghindaran agak sulit bila penderita pilek adalah orang-orang serumah. Hari-hari dengan pilek mengakibatkan suara saat ngomong turut berubah. Kita mendengar ada bindeng. Suara aneh dibandingkan hujan deras atau gerimis. Obat mungkin dipilih untuk menghentikan batuk dan pilek.

Orang-orang ingin waras saja selama hari-hari berhujan. Mereka makan dan minum seperti biasa tapi menghindari “ini” dan “itu”. Raga saat keluar rumah diusahakan terlindungi, tak mengharuskan hujan-hujanan. Tubuh bergerak mencipta kehangatan dan keluwesan. Pilihan menikmati minuman hangat agak memberi ketenangan. Hangat meladeni dingin-dingin terasakan saat hujan-hujan.

Waras, kata dan kondisi menjadikan orang-orang terus bisa belajar dan bekerja. Segala peristiwa bisa diselenggarakan dengan lancar tanpa ada lungkrah, suara aneh, dan ketergantungan obat. Orang mau waras setiap hari, bukan mau obat setiap hari. 

Pada masa lalu, waras itu masuk dalam kerja besar negara-bangsa. Indonesia menginginkan sehat. Jutaan orang diharapkan waras. Pihak penerbit Panjebar Semangat sebagai penerus dari seruan-seruan Soetomo mengadakan buku seri “Watjan Rakjat: Rakjat Sehat Negara Kuat”. Buku tipis dengan kertas koran dihadirkan untuk para pembaca berbahasa Jawa. Buku itu berjudul Bagas Kuwarasan (1952) susunan R Soemodirdjo.

Imam Supardi selaku penggerak Panjebar Semangat memberi sambutan untuk buku mengajak orang-orang waras: “Nanging kahanan ing bab kuwarasan rakjat isih njedihake, isih akeh banget rakjat kang ora ngerti tjara-tjarane urip kang sehat, pratikele ngupakara kuwarasan: malah saka orang ngertine mau, ora kurang-kurang kang dadi kurban, anemahi sangsara utawa tiwas.” Waras itu urusan negara melalui pelbagai program. Usaha untuk waras membutuhkan pendidikan-pengajaran dan anggaran besar. Anggaran bukan melulu untuk obat-obat tapi kesadaran hidup sehat.

R Soemodirdjo mengingatkan: “Awak kang kuwarasan iku adjine gede banget. Kang akeh wong iku durung krasa utawa rumangsa, jen durung ketaman lelara kang rekasa. Jen wis tau kena lelara kang rekasa, lagi krasa jen kuwarasaning awak iku gede banget adjine.” Hiduplah dengawan waras! Hindarilah sengsara gara-gara sakit! Kita mungkin perlu tanda seru agar raga bergerak memastikan terus sehat. Kita sadar makanan dan minuman menunjang waras, bukan justru kemanjaan atau kenikmatan malah mengantarkan sakit.

Masa demi masa, pelajaran waras itu berubah. Kita mengandaikan ada masalah-masalah baku meski sadar tatanan zaman berubah. Orang-orang masih mengharuskan mengerti ada hal-hal mengakibatkan atau mempercepat sakit. Kita salah mengerti atau gagal dalam tindakan untuk terus waras. Hujan tak harus bersalah. Kini, hujan-hujan masih turun memberi suara-suara bagi kita berharapan waras. Kita tak ingin ada suara batuk, pilek, atau ratapan demam. Waras itu baik dan membahagiakan. Begitu.  


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Jawaban dan Menawan

BOCAH bertambah usia ingin bertambah pengetahuan. Bapak dan ibu wajib menjawab bocah untuk penasaran apa saja. Dinding dan kertas sudah digambari. Tangan si bocah corat-coret berharap ingin menjadi huruf atau angka. Buku dan alat tulis membimbing bocah menemukan dan merasakan keajaiban-keajaiban. Hari demi hari, bocah berharap bapak dan ibu membuat keputusan-keputusan terpenting. Di rumah, bocah terus bermain tapi mulai berakal. Orangtua kadang bingung dalam memahami akal dan imajinasi bocah. Mulut si bocah mengucap apa-apa menandakan pemenuhan hak-hak belajar tapi tetap bermain dalam kegembiraan. Di majalah Kawanku edisi 21-27 Februari 1986, orangtua dibujuk oleh Gramedia: “Bila anak anda mulai menginjak usia tiga tahun … Apa yang akan anda lakukan agar ia cerdas seperti ayahnya dan cerdik melebihi ibunya.”

Jawaban: membelilah buku-buku terbitan Gramedia. Dulu, buku itu jawaban. Pembeli dan pengguna buku adalah keluarga-keluarga kelas menengah-atas. Buku-buku anak jarang murah. Kemampuan membeli disempurnakan dengan mengajarkan demi mencapai misi-misi. Buku itu perlu. Kita simak: “Pada usia itu anak anda mulai suka bertanya. Ada saja yang ditanyakan anak anda mulai pintar! pengetahuannya akan bertambah dengan pesat bila anda secara teratur memperkenalkan alam sekitar kehidupan kita ini melalui buku-buku yang indah dan menawan hati. Mulai dari nama benda apa saja yang sering kita temui di jalan, pasar, pantai, stasiun, hutan, sekolah, dan tempat kerja.” Buku-buku dibeli dan menghuni rumah. Bocah diajak pintar dengan buku-buku tipis ramai gambar dan mengandung pesona dari kata-kata. Dulu, buku masih jawaban. Kini, keluarga-keluarga bisa meragukan.   


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Penamaan

Bandung Mawardi

NAMA sudah dipikirkan sebelum pernikahan. Kebijakan milik orang-orang terlalu berpikiran serius tapi pengharapan besar. Ia masih lajang. Ia belum menikah tapi nama menjadi urusan penting. Hari demi hari, nama itu memperoleh pembenaran melalui kamus, film, pengajian, lagu, iklan, mitos, sepak bola, dan lain-lain. Konon, pembuatan nama ingin berbeda dari miliaran orang di dunia.

Pada saat menikah, nama tetap dipikirkan bagi keturunan bakal diperoleh melalui doa dan ikhtiar. Memikirkan nama tak lagi sendirian. Ada pihak “baru” dalam penetapan atau perubahan. Obrolan mungkin menjadikan nama itu penting ketimbang hal-hal berurusan kehamilan dan persalinan. Pembuatan nama membuat bahagia. Hari-hari berlalu, nama itu diinginkan sungguh-sungguh termiliki oleh manusia terlahir di dunia.

Nama ada duluan sebelum manusia. Situasi itu berlaku pada masa sekarang. Kita melupakan kaget atau polemik. Nama untuk anak menjadi pemikiran setelah ada pemberitaan, penerbitan buku-buku nama, percakapan keluarga, atau kemonceran artis-artis baru. Dulu, nama-nama dipikirkan mengacu sejarah keluarga, ruang sosial-kultural untuk hidup bersama, atau pancaran iman-takwa di keseharian. 

Keranjingan tema nama sempat diramaikan dengan buku-buku memuat daftar nama dan makna. Di toko buku, orang mudah membeli buku mengenai nama. Ada ratusan atau ribuan pilihan dalam menentukan nama. Pelbagai referensi dimuat dalam buku: agama, adat, kebangsaan, dan lain-lain. Sekian buku-buku nama malah terjemahan memiliki pendasaran sedang menjadi panduan bagi jutaan orang di dunia. 

Nama terberikan dan tersahkan menentukan si pemilik dalam daftar presensi, pergaulan sosial, pembentukan identitas, pembuktian keimanan, dan selera ideologis. Nama-nama tak lagi mematuhi kaidah-kaidah diritualkan seperti dilakukan para leluhur. Tata cara berubah meski menimbulkan perdebatan-perdebatan. Nama-nama dimiliki orang-orang Indonesia menjadi selebrasi global setelah sejarah dan tatanan hidup mutakhir memperkenankan beragam bahasa digunakan bersamaan.

Pada abad XXI, ilmu nama tak serumit masa lalu. Pengetahuan dan konsekuensi penamaan dengan acuan-acuan baru. Ritual agak berkurang. Pengumuman nama-nama mulai mencipta selera-selera kebaruan terpengaruh pamrih-pamrih kepuasan, senang, atau keumuman. Argumenasi memang dibuatkan tapi jarang berakar dan terceritakan berkesinambungan.

Dulu, ada penerbitan buku berjudul Nama-Nama Indonesia susunan Ki Hadiwidjana. Buku kecil terbitan Spring, Jogjakarta, 1968. Buku pernah menjadi sumber pengetahuan bagi orang-orang memerlukan “kebenaran” dan pertanggungjawaban makna. Pihak penerbit menjelaskan maksud pemberian nama: “Diperoleh nama-nama jang sedap, enak didengar. Diperoleh nama-nama jang sesuai dengan harapan orang tua. Diperoleh nama-nama jang baik artinja dan sesuai dengan kepribadian Indonesia.” Kalimat terakhir itu keseriusan. Negara diakui penting dan berpengaruh bagi orang-orang berpikiran nama. Konon, nama itu kepribadian Indonesia. Kita menganggap itu perkara terlalu besar. 

Ki Hadiwidjana menerangkan hakikat pemberian nama: “Selamat sempurna tak kurang suatu apa. Mendapat kebahagiaan dan kemuliaan dalam hidupnja. Mendjadi orang jang baik-baik, berdjasa dan berbakti kepada masjarakat, memenuhi tugas atau panggilan Tuhan dialam dunia ini.” Hakikat itu berubah pada abad XXI. Buku berjudul Nama-Nama Indonesia kedaluwarsa tergantikan sumber-sumber bukan buku tapi pencarian melalui internet atau pengamatan atas media-media mutakhir. Ajakan ada kepribadian Indonesia masih terdengar tapi lirih. Kemauan dan pamrih orang-orang memberi anak dalam pergaulan global memungkan perjumpaan hal-hal sakral dan profan. Penamaan tak sekolot masa lalu. Nama menjadi pengumuman “kebingungan” bagi orang-orang ingin menemukan pendasaran referensi dan akibat masa depan. Nama-nama rawan tak “bersejarah” tapi kejuatan-kejutan sesaat membasi. Begitu.   


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Terpikat dan Terwujud

Bandung Mawardi

IA terpikat filsafat. Pikiran lekas mengembara dan “nakal”. Ia telah mengerti dan paham Aristoteles. Hari-hari di rumah digunakan untuk membuat lelucon murahan dan mencipta penghiburan dengan filsafat. Semula, kehadiran di filsafat adalah pelajaran untuk laki-laki, bukan perempuan. Ia terpikat saja, terseret jauh.

Bocah perempuan bernama Alesandra Gilani mudah mengucap nama-nama pemikir. Ia mengingat sekian pemikiran untuk dikagumi. Tokoh-tokoh dari masa silam berdatangan. Perkenalan-perkenalan di rumah, belum di sekolah. Si bocah memang mengerti perhitungan nasib: tak mudah direstui bersekolah atau mengikuti petunjuk-petunjuk diberikan para filosof dalam mengerti dunia. Ia di rumah saja berdalih kepantasan akibat kolot-kolot tersisa di peradaban Barat.

Ia masih beruntung. Bapak mencari nafkah dari membuat duplikat atau salinan buku-buku penting. Di Italia, buku-buku masih terbatas. Orang-orang memerlukan bacaan. Institusi-institusi menginginkan koleksi bermutu dan terbaik. Di rumah, bapak memiliki ruang dalam membuat salinan buku-buku beragam tema: terpenting dan menghasilkan rezeki. Di situ, ada pekerjaan-pekerjaan sulit dan berisiko dalam menjadikan salinan tampak terhormat. Otoritas dan uang menentukan kehadiran buku dan pembuatan salinan. Tata cara kerja berkaitan dengan universitas, gereja, pemerintah, keluarga, dan lain-lain.

Buku-buku atau salinan terbaca. Bocah itu bertumbuh dengan kata-kata dan pameran ilustrasi dalam buku. Ia makin mengerti tapi ingin melihat dan merasakan dunia di luar rumah. Ia mengikuti kakak (Nicco) berkuda dan mengembara di hutan agak jauh dari rumah. Petualangan berbeda dari rimba kata. “Tidak heran kau menganggap Aristoteles membosankan!” kata Alessandra kepada Nicco. Ketakjuban mewujud: “Mengapa harus membaca untuk belajar, saat seluruh dunia membetangkan keajaiban di kaki kita?” Ia terpikat pohon, binatang, air, tanah, batu, dan lain-lain. Di luar buku, dunia itu pesona.

Kita sedang menikmati cerita gubahan Barbara Quick berjudul A Golde Web (2011). Novel mencipta tawa ketimbang getir-getir sebagai drama. Kita tertawa atas tindakan-tindakan demi pengetahuan. Ikhtiar besar memiliki kepahaman kedokteran, terutama anatomi. Sejak bocah, Alessandra telanjur mengenali para ilmuwan dan memuja pengetahuan.

Di Eropa, para ilmuwan bermunculan saat dipengaruhi bacaan-bacaan diterjemahkan kalangan Arab. Kitab-kitab lama terbaca lagi melalui penerjemahan-penerjemahan. Alessandar berada dalam lakon gerakan ide dan buku-buku bersebaran di pelbagai negeri akibat misi besar penerjemahan. Para pendamba ilmu makin mengerti segala derita dan capaian. “Ilmuwan telah mengalami cukup penderitaan akibat pendirian kuat kosmopolitan mereka dan khalayak ramai secara perlahan-lahan telah belajar menjadi toleran terhadap mereka,” tulis H Margenau dan David Bergamini dalam buku berjudul Ilmuwan (1980). Pada suatu masa, ilmuwan dikutuk berdalih agama atau Tuhan. Ilmuwan pun ternantikan memiliki keajaiban-keajaiban setelah takdir-takdir dunia perlahan terbuka dan terbaca. 

Pada masa menjelang dewasa, Alessandra menjadi tanda seru bagi ibu (tiri). Ia tetap ingin dalam kasih bapak dan saudara-saudar. Keinginan makin jelas. Perintah untuk menikah diladeni dengan siasat pergi ke biara, kabur menuju Bologna. Di sana, ia bertaruh untuk studi kedokteran. Diri sebagai perempuan berubah penampilan menjadi lelaki. Barat masih kolot. Ia mengerti dan bermain risiko dengan “kelelakian” buatan demi ilmu dan penghindaran tanda seru dari keluarga.

Di Bologna, Alessandar berubah menjadi Sandro. Ia berkumpul dengan para mahasiswa dan menekuni buku-buku sulit. Ia tampil sebagai sosok pintar dengan misteri-misteri perlahan terkuak. Ia ingin berurusan dengan tubuh manusia. Di tangan ada pisau, ia membedah dan mempelajari beragam hal: kecil dan besar. Ia ingin mengerti anatomi dalam hari-hari studi kedokteran memerlukan duit, kekuatan, dan keberuntungan. 

Pada hari agak murung, Alessandra dalam sengketa tuduhan dan pengaharapan: “Peremuan diciptakan terakhir, setelah semua hewan dan Adam sendiri. Mengapa Tuhan melakukan itu jika Dia bermaksud menciptakan perempuan sebagai sosok yang lebih rendah? Jika memang begitu, mengapa Dia tidak menciptakan perempuan tepat setelah hewan-hewan dan sebelum Adam? Alessandra duduk di sana, dalam keremangan gereja, dikelilingi roh-roh mati yang terkubur. Dia tahu, dia harus melawan seluruh kekuatan di Bumi agar bisa mencapai cita-citanya dengan kemampuan dan ambisi yang Tuhan karuniakan kepadanya.” Pilihan studi kedokteran makin melawan kolot dan keberanian menjadikan Eropa bergolak oleh perempuan.

“Eropa pada pertengahan abad XIV merupakan benua dirundung keputusasaan,” tulis Russel V Lee dan Sarel Eimerl dalam buku berjudul Dokter (1982). Eropa ingin kemajuan dalam ilmu kedokteran. Eropa tak mau lagi menderita oleh wabah-wabah. Eropa ingin para dokter membawa kabar baik. Situasi itu menjadi studi kedokteran terlalu serius, memunculkan gagasan-gagasan besar di pusat-pusat kota dalam melawan pikiran-pikiran kolot bertema kesehatan dan keselamatan. 

Dokter menjadi sosok idaman selain mendapat kecaman-kecaman. Di buku berjudul Dokter, terbaca: “Pada abad XIX, waktu abad kedokteran ilmiah baru mulai, dokter khas waktu itu adalah dokter pribadi dalam arti ini. Ia mengobati pasien dari segala umur dan memperhatikan pasien itu dengan segala penderitaannya. Ia membantu persalinan, membetulkan tulang patah, mengobati gondong dan penyakit jantung, serta menjalankan operasi besar, misal pengambilan usus buntu. Ia menjadi sahabat dan penasihat.” Pada suatu masa, Alessandra bergerak di jalan berikhtiar kesembuhan manusia dan mengerti anatomi. Ia dalam dilema-dilema tapi mengerti takdir ditanggungkan dalam pengetahuan dan peran untuk dunia. Begitu. 


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Pencuci (Belum) Sempurna

KEPUTUSAN menikah anggaplah mudah. Pengertian dan peran sebagai suami dan istri anggaplah agak sulit mufakat. Sulit-sulit nanti bertambah saat memiliki momongan. Sulit berupa omongan. Sulit itu tindakan. Sulit adalah peristiwa. Sulit untuk menang dan kalah. Nah, sulit itu mencuci. Perempuan sah menjadi istri memulai hari-hari awal dengan mencuci baju berdua. Peristiwa mencuci menimbulkan pemandangan dan cerita dari keluarga atau teman bila istri mengerti peran. Bukti itu bakti. Mencuci untuk kasih, setia, dan tanggung jawab. Suami mulai mendapat pesan dan anjuran dalam mengenakan pakaian. Baju atau celana sudah dianggap kotor jangan terlalu lama di centhelan. Undang-undang mencuci dibuat dan diberlakukan. Istri ingin suami mengenakan pakaian bersih, lembut, dan wangi. 

Jatah cucian terus bertambah bila memiliki anak. Istri mungkin bersumpah ingin menjadi pencuci teladan sepanjang masa. Ia ingin mutlak berurusan dengan cucian, menghendaki suami menjadi lelaki bekerja atau leha-leha. Ilmu mencuci terus dipelajari. Informasi demi informasi diperoleh dalam pergaulan sesama perempuan. Pencuci teladan pun terbujuk iklan-iklan. Mencuci makin ribet. Sekian hal diharapkan ada dalam mencuci, tak seperti mencuci pada masa lalu. Masa demi masa, iklan-iklan bertema mencuci menginginkan ada tambahan-tambahan. Keluarga-keluarga di Indonesia tak dibiarkan mencuci biasa-biasa saja. Di majalah Femina, 16-22 Februari 1995, para pencuci mendapat pasal baru: “Tuang, larutkan, rendam. Mudahnya menciptakan kenyamanan untuk seisi keluarga.” Para pencuci diharapkan patuh dan menjawab dengan Comfort, setelah dibuat bingung: “Tahukah anda bahwa kemeja yang dicuci dengan deterjen bermutu belum tentu nyaman dipakai?” Oh, pencuci dituduh melakukan kesalahan dan tak mencuci secara sempurna. 


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Pagi dan Kematian

Bandung Mawardi

HARI-HARI hujan. hari-hari kematian. Setiap pagi dingin sering enggan pergi. Matahari kadang muncul sebentar, tak terlihat lagi. Pagi telah mendung. Pagi membuka mata, membuka kesedihan.

Bapak bersih-bersih halaman depan dan samping. Abad Doa Abjad mengurusi menthog dan pitik. Adegan membersihkan kandang-kandang dan memberi makan menjadi ritual sebelum raga mengenakan seragam untuk memenuhi predikat sebagai murid SMP. Pagi bisa menggembirakan tapi saat hari-hari hujan dan mendung bisa mendatangkan duka.

Sekian hari, Abad menemukan pitik-pitik mati. Pitik kecil dan besar. Ia biasa berteriak memberitahu bapak dan ibu. Kematian dan pagi berulang. Semula, Abad mau menguburkan pitik-pitik kecil. Keberanian bukan dalam penguburan pitik besar. Bapak kadang mengambil peran sebagai penggali kuburan dan menutupi pitik-pitik besar dengan tanah berhiaskan daun-daun. Bapak pun sedih tanpa air mata. Ia memilih penguburan di bawah pohon-pohon.

Pagi, Abad tampak sedih. Ia berusaha tak menangis meski sempat marah-marah. Pitik-pitik mati. Ia mengerti cuaca tak menentu, sekian hari panas-sumuk cepat berganti dengan hujan-hujan menjadikan pitik-pitik rentan sakit. Ketangguhan dimiliki menthog-menthog. Pengalaman melihat nasib pitik mati dalam cuaca tak menentu sudah termiliki setahun lalu. Kesedihan gara-gara jumlah.

Para tetangga memelihara pitik juga melaporkan kematian-kematian. Abad pun mendapat kabar dari Mbah kakung, kematian pitik-pitik. Abad tak terlalu merasa bersalah bila dituduh gagal dalam bertanggung jawab penuh beternak pitik. Ia sudah berusaha. Sekian pitik sempat diobati tapi tetap mati. Pada suatu hari, Abad mengikhlaskan dua pitik besar dibawa ke rumah budhe untuk disembelih menjadi lauk, sebelum terkena sakit dan mati. Abad tak mau ikut makan. Ia suka daging pitik tapi harus beli, bukan pitik peliharaaan sendiri.

Bapak tak mau memberi nasihat. Bapak melihat saja perubahan sikap dan kebahasaan Abad saat menanggungkan duka. Kemarin, ada lagi satu pitik mati. Abad mengira hari-hari kematian berlalu tapi masih ada saja kematian. Ia tetap tak tega menguburkan. Ibu mengadakan upacara penguburan sederhana di kebun. Kematian-kematian membuat Abad berpikir untuk terus memelihara pitik atau menambahi jumlah ternak menthog dengan jenis berbeda.

Abad belum membutuhkan membaca buku-buku petunjuk beternak pitik. Ia cukup dengan obrolan dan peniruan. Bapak membuka lagi buku-buku lama. Terbaca buku berjudul Ternak Ajam di Indonesia susunan KL Lauw, terbitan Perusahaan Ternak Missouri, Bandung. Buku berisi petunjuk-petunjuk beternak pitik dan iklan produk-produk Missouri.

Pejabat di Jawa Barat memberi pujian: “Semoga buku ini faedahnja untuk chalajak ramai dan dapat dipakai sebagai pedoman oleh saudara-saudara jang gemar memelihara ajam dan hendak mentjari nafkahnja dengan djalan menternakkan ajam.” Pada masa 1950-an, orang-orang beternak untuk mendapat nafkah atau sekadar mencukupi kebutuhan keluarga agar bisa makan daging dan telur.

Abad memelihara untuk gembira dan mendapatkan rezeki. Penjualan pitik dan menthog membuat bahagia. Ia mengetahui beternak itu menghasilkan rezeki dengan ketekunan dan kesabaran. Kegagalan dan sedih itu melanda, teranggap biasa sebagai konsekuensi. Ia masih saja beternak meski tak memiliki teman-teman turut memelihara pitik dan menthog. Di sekolah, ia mungkin berani bercerita bersama teman-teman tentang keseharian di rumah. Pilihan beternak mungkin kelucuan atau keanehan bagi teman-teman.

Pagi bila ada kematian pitik-pitik, bapak mengantar Abad dan Sabda ke sekolah. Di perjalanan, Abad mengatur perasaan agar sedih tak terbawa sampai sekolah. Di depan gerbang sekolah, Abad mulai tampak tenang dan berganti perasaan untuk belajar di sekolah selama 2-3 jam. Ia berhak berbeda tema selama di sekolah, tak melulu harus pitik. Begitu.


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Mandilah!

HARI-HARI hujan, bocah-bocah ingin basah tanpa larangan dan kemarahan. Hujan! Hujan! Hujan! Bocah-bocah lekas meninggalkan rumah, memberi tubuh untuk tetesan air berharap deras. Di halaman atau jalan, mereka hujan-hujanan sambil teriak, menari, dan bersenandung. Hujan-hujanan tak memerlukan seragam atau upacara resmi. Bocah dan hujan bermesraan. Mereka pantang dingin dan capek. Bocah-bocah menjadi pemilik hujan, belum perlu berpuisi atau berfilsafat. Hujan-hujanan itu girang ingin berulang dan berulang. Setiap hari hujan, mereka mungkin ikhlas hujan-hujanan asal bumi dan langit belum bosan.

Bocah-bocah ingin mendapat puncak pemaknaan hujan-hujanan kadang sedih. Mereka tinggal di kota sulit mencari tanah. Keinginan bermain di lumpur tak terwujud. Mereka berada di atas aspal atau tempat-tempat keras bersemen. Mereka rindu tanah basah. Mereka ingin melihat lumpur. Tubuh-tubuh ingin kotor. Tubuh merindukan persekutuan tanah dan air. Mereka berjatuhan, berbaring, bermain bola, atau tangan melempar lumpur segenggam. Rindu (sudah) terlarang di kota-kota tak bertanah. Nah, bocah-bocah di desa masih mengetahui lumpur bakal  mengotori celana dan baju. Tubuh mereka pun kotor dan bertanah. Senang! Mereka pulang dan mandi. Di majalah Femina, 15-28 Oktober 1990, bocah-bocah dianjurkan mandi menggunakan Lifebuoy. Sabun mandi “berteman” dengan hujan. 


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Bocah dan Sejarah

Bandung Mawardi

OKTOBER berlalu dengan hujan-hujan. Bulan itu sepi. Sekian peringatan hari bersejarah tercantum di kalender tapi Indonesia sepi-sepi saja. Pihak sekolah belum mau mengadakan acara-acara besar mengajak para murid sedikit mengingat atau mengerti tokoh dan peristiwa silam. Sejarah-sejarah selama Oktober kemarin masih ada tapi kurang cerita.

Bapak iseng-iseng menguji pengetahuan Abad (SMP) dan Sabda (MI). Mereka menjawab asal-asalan mengenai Hari Santri dan Sumpah Pemuda. Dua hari diperingati dengan tema buatan pemerintah tapi dua bocah itu menganggap belum penting. Mereka cuma mesam-mesem saja. Sekian tahun belajar di sekolah belum ada panggilan sejarah menjadikan mereka mengerti bab-bab tentang Indonesia. Di rumah urusan sejarah mudah tergantikan menonton film atau sinetron. Sejarah masih jauh. Sejarah belum diinginkan. Abad dan Sabda belum ada keinginan membuka buku-buku berselera sejarah sudah tersedia di rumah. Sabda mungkin sempat penasaran dengan buku-buku Benny-Mice agak mengingatkan Indonesia masa 1990-an. Di situ, ada sejarah 1998.

Hari demi hari, bapak kurang sungguh-sungguh berbagi omongan atau sejarah di rumah. Ia kewalahan menandai hari-hari bersejarah di Indonesia. Jumlah hari peringatan “berlebihan”. Semua-semua ingin ditetapkan sejarah, diperingati oleh pemerintah, komunitas, atau pihak-pihak berkepentingan. Indonesia mungkin negara paling “boros” dalam kemauan menjadikan hari-hari bersejarah. “Boros” menghasilkan tema dan pesan tapi “ngirit” dalam pengisahan. Bapak di rumah itu lelah memikirkan sejarah di Indonesia. Ia masih bingung untuk mengajak bocah-bocah berjalan di sejarah.

Pada masa 1950-an, pemerintah ingin bocah-bocah mengetahui sejarah. Para pengarang, pendidik, dan ahli diminta rajin dan cepat membuat buku-buku pelajaran sejarah. Puluhan penerbit mengadakan buku-buku tipis dan sederhana demi dipelajari murid-murid di sekolah. Sejarah tak boleh terlalu jauh. kepentingan mengajarkan sejarah setelah penciptaan sejarah besar pada 1945 disertai salah dan ragu. Murid-murid masa 1950-an diminta senang dulu mengetahui sejarah dan turut dalam sejarah terbentuk berbarengan saat Indonesia belum terlalu tegak.

Sejarah untuk bocah. Masalah itu tak mudah saat bibliografi sejarah masih bersumber dari buku-buku berbahasa Belanda dan sekian bahasa asing. Para penulis buku sejarah salah tingkah untuk menguatkan citarasa Indonesia. Kepustakaan sedikit seperti mengesankan sejarah di Indonesia belum meriah. Pembuatan buku pun memerlukan ilustrasi dan foto. Ongkos percetakan buku kadang menjadi mahal. Pencarian foto-foto terpenting dalam sejarah juga sulit. Pada masa 1950-an, sejarah terajarkan untuk bocah-bocah dalam keterbatasan dan keinginan harus “cepat”.

Pada 1956, terbit buku berjudul Saran-Saran Tentang Mengadjarkan Sedjarah susunan CP Hill. Buku diadakan oleh Perpustakaan Perguruan, Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan. Buku menjadi panduan bagi para guru dan pihak-pihak ingin mengajak bocah-bocah mengerti sejarah. Ikhtiar ingin menimbulkan senang, bukan meriang.

Hill memberi saran: “Masa lalu jang mudah diterima anak-anak mungkin masa lalu jang paling primitif dan paling djauh – masa-masa prasedjarah. Hampir semua anak menundjukkan perhatian jang spontan terhadap penghidupan manusia-manusia pertama, sebab mereka tjepat dapat menerima dengan chjalnja pengertian jang terang tentang bagaimanakah hidup.” Saran itu agak terbenarkan bila bocah-bocah sekarang membuka buku mengenai manusia primitif atau menonton film-film dari masa terlalu jauh. Mereka tergoda berimajinasi dan mengajukan seribu penasaran.

Saran-saran belum berkaitan dengan sejarah di Indonesia. Bocah-bocah di Indonesia selama di sekolah sering mendapat pengumuman untuk peringatan hari-hari bersejarah. Setiap tahun itu berulang dan jarang mengesankan. Peringatan sejarah mungkin dipahami adalah lomba atau upacara bendera saja. Begitu.   


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Selalu Kecap

PEDAGANG keliling menjajakan beragam makanan. Di pinggir jalan, pedagang menawarkan kenikmatan untuk anak-anak. Pedagang-pedagang itu berbekal kecap bila berjualan cilok atau penthol. Kecap dimaui anak-anak. Mereka jajan merasakan kenikmatan dengan kecap. Anak-anak berani biasa menambahkan saus pedas atau sambal. Kecap digunakan dalam jajanan memberi warna bikin ngiler. Aliran atau tetesan kecap makin membuat anak-anak bernafsu makan. Anak-anak tahu rasa kecap itu manis. Jajan cilok atau penthol dicampur kecap membuat hari-hari mereka bertambah manis.

Di rumah, anak-anak ingin selalu ada kecap. Ibu membuat macam-macam masakan mengandung kecap. Anak-anak kadang ingin kecap untuk tambahan atau kesempurnaan. Oseng-oseng menggunakan kecap. Anak kadang minta dibuatkan tahu dan tempe bacem, tentu pakai kecap. Makan soto olahan ibu dirasa nikmat bila pakai kecap. Anak-anak ingin serba kecap saat makan di rumah. Jari-jari mereka bisa digunakan untuk mendapatkan kecap. Lidah menjilat kecap merasakan nikmat. Di rumah, anak-anak melihat kecap dalam plastik, botol beling, atau botol plastik. Kecap paling diingkan dengan rasa manis.

Di majalah Kartini, 8-21 Oktober 1984, iklan memperlihatkan pembuatan kecap di pabrik. Botol-botol kecap bergerak dalam olahan dan pengemasan dijamin bersih dan sehat. Kecap bermerek ABC itu diumumkan bertaraf internasional, berarti digunakan oleh orang-orang di pelbagai negara. Pembaca juga melihat foto bahan-bahan pembuatan kecap: kedelai dan gula jawa. Ada tambahan sedikit pengetahuan bagi pembaca mengetahui pembuatan dan penggunaan kecap. Iklan itu menantang: “Belilah kecap ABC dan bandingkanlah dengan kecap lainnya.” Keluarga-keluarga Indonesia menjadi manis dengan kecap-kecap. Ada keluarga memilih ABC, Bango, Lombok Gandaria, dan lain-lain. Mereka tetap saja keluarga kecap.


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.